18 Januari 2010

Ente Jual, Ane Beli

Awalnya dia minta tolong ke saya sebagai teman, untuk mengeditkan draft novelnya. Dari awal saya memang tidak berniat minta bayaran. Saya ikhlas kok, karena dulu dia cukup akrab dengan saya.
Saya mengedit tulisannya dengan ngebut. Saya sampai memakai akhir pekan panjang selama tiga hari dengan tidak pergi kemana-mana, padahal waktu itu ada ajakan naik gunung. Tiga hari tiga malam itu saya bertapa di kamar kost, bekerja seteliti mungkin dan berusaha mengejar deadline karena tenggat naik cetak novelnya.

Di sisi lain, dia juga minta salah satu temen blogger untuk membikin ilustrasinya. Selanjutnya, dia minta beberapa orang terkenal yg kebetulan juga blogger untuk jadi first reader.

Belakangan setelah novel itu akan terbit, saya mendengar dia mengedit lagi hasil editing saya itu. Saya jadi heran dan nggak mengerti maunya dia apa sih? Maaf nih, padahal tulisannya dia itu nggak mulus. Untuk soal menulis imbuhan saja dia payah. Waktu editing saya sebagian habis untuk hal-hal remeh seperti itu, yang seharusnya sebagai seorang yang sudah menamatkan pendidikan dari SD sampai SMA, dia sudah tak perlu diajari.

Saya jadi merasa sia-sia kerja tiga hari tiga malam.

Belakangan ternyata hasil ilustrasi si teman blogger yang lain juga tidak dipakainya. Dia memakai ilustrasi orang lain. Alasannya ilustrasi awal itu tidak cocok. Padahal dia sendiri lho yang bilang suka pada hasil karya si teman, dan ingin memakainya dalam bukunya.

Di blognya, dia menulis postingan khusus ucapan terima kasih buat orang-orang yang berpartisipasi untuk novelnya. Ternyata dia cuma menyebut sederet orang-orang terkenal yang jadi first readernya. Nama saya dan nama ilustrator yang pertama? Nggak ada. Mentang-mentang dia mengedit ulang hasil editing saya dan tidak jadi memakai ilustrasi pertama itu kali ya.

Setelah novelnya terbit, dia sempat mengirim undangan untuk launching bukunya. Saya tidak bisa datang karena sedang di luar kota. Tapi dia nggak pernah tuh menanyakan alamat saya sebagai itikad akan mengirim komplimen. Yang ada dia malah menyesal-nyesali kenapa saya nggak bisa hadir (mungkin untuk memuji-muji karyanya di depan hadirin).

Saya jadi berpikir: "Lho, jadi maksudnya gue harus beli nih? Kirain mau dikirim satu eksemplar."
Etikanya, editor mendapatkan beberapa eksemplar sebagai komplimen. Lagipula, toh dia tetap memasang kata pengantar dari saya sebagai editor di novel itu.

Saya sih bisa beli sendiri kalau mau. Tapi dimana sopan santunnya? Saya sudah menolong dia. Sedikitnya, meskipun dia edit lagi hasil editing saya, namun demikian tentu ada beberapa kekacauan tulisan dia yang sudah saya poles, yang masih dia pakai. Meskipun ada juga yang dia switch ke tulisan sebelum editing. Nah, sebetulnya itu merisaukan hati saya. Kalau ada lagi kalimat salah ketik, salah eja, salah menulis imbuhan di novel itu, gimana? Sementara mereka tahunya editornya kan saya. Bisa rusak nama baik saya!

Maaf ya, di manapun saya bekerja sebagai editor, saya dikenal paling teliti soal mengoreksi naskah. Jarang kesalahan eja, tulis atau ketik yang luput dari mata saya.

Kok saya kedengaran nggak ikhlas ya nolong dia?
Oh salah. Saya ikhlas kok. Tapi saya berhak jengkel kan, karena saya merasa diperalat, disepelekan. Saya ini kan menganggap dia teman. Tapi sepertinya dia tidak setulus itu pada saya.

Padahal saya ini kurang apa sebagai teman? Selama proses penerbitan novel itu, dia selalu menelepon saya. Dan selalu pada jam-jam istirahat saya, entah itu tengah malam atau jam satu pagi... dan telepon-teleponnya yang berjam-jam itu isinya hanya soal rasa groginya, ketidakyakinannya, keraguannya... terhadap prospek novelnya. Sampai saya capek memberi suntikan semangat! Saking capeknya, belakangan teleponnya tidak pernah lagi saya angkat.

Sebetulnya, saya sudah menduga bahwa dia tidak setulus yang saya kira. Ketika dia bilang dia akan menerbitkan novelnya dengan penerbitan sendiri, saya bercanda dan bilang, "baguslah, kalau kamu punya penerbitan sendiri, saya juga bisa kasih draft novel saya ke kamu untuk diterbitkan."
Tahu nggak, dia diam saja tuh. Dari diamnya itu saya tahu, dia tidak bersedia. Entah karena apa. Mungkin takut novel saya lebih laku dari novelnya? Who knows.

Sekarang sih, dia saya coret dari friend list saya. Maaf, saya nggak ada waktu berteman dengan orang seperti itu. Dan pengalaman ini saya jadikan pelajaran berharga. Saya nggak akan lagi mau dimintai tolong siapapun kalau nggak ada hitam di atas putih, sekalipun cuma proyek thank you.

14 komentar:

  1. oh.. oh.. siapa diaaaaa *koes biantoro mode on*
    hm, ciri2nya seperti ****ei? oops :P

    mbak ennooooooo.. *hugs*
    maap ya udah lama ga maen2, tau2nya udah bikin blog ramean gini :P

    tapi aku masih suka ngintip2 rumah 'falling-eve'mu kok, walopun udah lama ga ninggalin comments, hehe :D

    Ada kabar barukah?

    BalasHapus
  2. siapaaa? siapaaa?
    aku mau baca novelnyaaa
    hihihihi

    BalasHapus
  3. masuk akal, kalau digituin memang berhak kesal..

    tapi, sekarang moodnya udah baikan?

    BalasHapus
  4. Walah sedang menduga-duga...
    jangan-jangan dugaanku bener...xixixi...sotoy jenk !

    soalnye aku ngareb juga dapat gratisan hahaha...

    Wah...ada konflik di sini....hemm..
    Yaaa...mb enno jadi tutup toko deh...gak terima order lagi fufufu....

    BalasHapus
  5. @hanny: haniiiiii..... sini dipeluuuk!!! aw! kangen! mentang2 udah sibuk ngurus suami ya.. hehe..

    @owly: lho, bukan kamu ya? kirain kamu! :P

    @Ra-Kun: mood sih udah baik2 aja,,, sebetulnya udah EGP kok. Tulisan ini cuma buat diambil hikmahnya buat yg lain supaya gak mudah percaya sm orang yg menyebut dirinya 'teman.'

    @ajenk: hihihi tutup toko sih enggak, tapi sekarang gak pake gratis :P

    @

    BalasHapus
  6. No, padahal aku baru rencana minta tulung kamu ngedit surat cintaku
    hwahahaha :P

    BalasHapus
  7. wew,
    tega banget sih tu orang.
    aku jadi ikut2an jengkel nich
    :p
    yang sabar ya mbak,

    tapi penasaran juga siapa sih??

    BalasHapus
  8. wah...ikutan jengkel deh. wajar sih dihapus dari friendlistnya mbak...

    BalasHapus
  9. @sari: hihihi ogah ah surat cinta mah ga lepel :P

    @wiwit: siapa apa? hahaha

    @lina: ada kemungkinan salah paham sih, tp tetep aja merasa diperalat

    BalasHapus
  10. yang kayak gitu emang bikin kesal. diperalat teman sendiri, teman dekat pula! mari kita timpuk dia rame-rame...!!!!

    *provokator mode:on*

    BalasHapus
  11. sabar nooo sabaar. Orang sabar pantatnya lebaaar hihihihih. Gw juga kalo jadi lu pasti mangkel banget, tapi kalo gak karena kejadian ini kita gak akan bener-bener tau kan gimana kualitas dia sebagai teman

    BalasHapus
  12. @henny: waduh, baru mantenan malah jd preman hahaha... jgn ah! udah kulupain kok..

    @brokoli: bener pop, lbh baik begitu, jd tau dan kita jd punya pengalaman berharga :)

    BalasHapus
  13. jadi ikutan penasaran siapa yang baru nerbitin novel, blogger juga ya??
    hehehehe *mulai muncul beberapa nama di pikiran*
    ;p
    ambil hikmahnya aja mbak enno..
    sekarang mending terbitin novel sendiri dulu aja mbak, kali2 lebih laris daripada yang minta editin itu hihihi

    BalasHapus
  14. hoooo.. si dia ya mbok ;)

    BalasHapus

share us something