21 Agustus 2013

What Goes Around Comes Around

No need for revenge. Just sit back and wait.
Those who hurt you will eventually screw up.
And if you're lucky, God will let you watch.

..............................

Orang yang memarahi saya, padahal saya nggak salah.
Mengatai saya pemalas, padahal setiap hari saya kerja kayak babu di rumah sendiri.
Menganggap saya pengangguran, padahal saya bisa jalan-jalan ke luar kota hampir tiap bulan pakai uang hasil kerja sendiri.
Bercerita ke semua orang dengan puas dan bangga bahwa dia memarahi saya karena saya ini pemalas yang sudah seharusnya dimarahi.
Menyebarkan ke semua orang, supaya mereka tahu saya ini pemalas dan nggak becus (yang untungnya orang-orang tidak ada yang percaya).

Dia kecelakaan dan tulangnya patah. Harus dioperasi. Lalu persediaan darah di PMI kosong.

Saya tidak mensyukuri keadaannya. Saya prihatin. Saya sedih.
Saya tidak pernah berharap, apalagi mendoakan, dia mengalami kejadian seperti itu.
Cuma ada satu hal yang tiba-tiba tercamkan di otak saya. Hikmah dari kejadian ini.

Allah tahu saya sedih dimarahi dan dikatai seperti itu.
Alah tahu saya bukan pemalas dan pengangguran.
Allah tahu bahwa halaman rumah saya yang belum disapu di hari saat orang itu datang, tidak selamanya selalu kotor begitu.
Allah tahu alasan saya benar, bahwa tukang sapu yang biasanya saya suruh sedang mengerjakan sawahnya dulu.
Allah tahu, saya tidak sempat menyapu sendiri karena pekerjaan saya di rumah ini terlalu sangat banyak dan menghabiskan energi. Belum lagi, saya masih butuh remah-remah energi itu untuk menulis.
Allah tahu saya bukan sedang bermain games di komputer, melainkan bekerja mencari uang.
Allah tahu, mereka yang suka mengkritik saya selalu tinggal pakai rumah ini untuk berbagai acara keluarga, hanya tahu beres. Bahwa rumah tua ini harus diperbaiki atap bocornya, cat dindingnya, gorden robeknya, pagar kusamnya.
Allah tahu, saya pakai uang saya pribadi untuk memperbaiki semua itu. Jadi seharusnya yang suka usil tahu diri.

Allah tahu, saya tidak ridho dizalimi.

Maka Allah memberi peringatan bagi orang-orang yang zalim.
Karma does exist.

pict from here

14 Juli 2013

back then..




 A : mantan gue sekarang ok banget deh. kerjaan okeh, tampang juga cakepan deh
 B : trus, loe nyesel gitu udah mutusin dia?
 A : err..lumayan sih bokk


Pernah dengar percakapan seperti itu ga? saya? sering! bahkan saya pernah terlibat dalam obrolan seperti itu. Dimana orang yang kita tinggalkan menjadi lebih sukses ketika kita meninggalkannya atau setelah tidak bersama kita lagi. Saya sendiri mungkin salah satunya, mantan saya, after all those drama yang akhirnya kami putus,sekarang tambah sukses di kerjaan welding dia, Saya pun tidak menginkari kalo terbesit rasa iri, rasa err...apa ya namanya? sedikit nyesal (?) , tapi toh..semuanya harus move on kan?
Jadi, mungkin..yang harus kita lakukan adalah..tetap menjalani hidup tanpa menyesali yang dahulu, dan tetap optimis buat kedepannya. *oke, it's sounds like Mario Teguh* :)) . Who knows..dia sukses, kita sukses, trus tiba-tiba dekat lagi #eaaa #Hallah #GagalMoveOn :))

Saya ga bilang harus balikan lho, ga!. Kalo kalian sudah punya cowo seganteng Siwon Suju & mapan kenapa harus balikan lagi? ahh..sudahlah, buat saya, masa lalu dengan mantan itu ga harus dikubur dalam-dalam, toh pasti ada saatnya ingatan itu muncul lagi. Biarkan itu menjadi kenangan indah & tetap dibelakang. Kalaupun kenangannya jelek, biarkan itu menjadi pelajaran buat kita untuk kedepannya. Jadi, kata siapa cinta ga butuh pembelajaran? ahseeeekkk :))

PS : ramadhan hari 5, tetap semangat yah puasanya :)
gambar diambil dari sini

9 Juli 2013

:)



dia mengeluh..
"saya pusing, kerjaannya saya banyak"
saya jawab..
"bukannya memang semuanya sudah overload?"
dia tetap saya ngedumel dengan suara yang masih bisa saya dengar
"iyya, tapi, masih yang kaya gini saja harus saya?dibagian lain ga"
saya menatapnya, kerjaannya memang overload, tapi tubuhnya tetap saja semakin menggendut.
"yawdah, saya bantu kerjain"
ujar saya...dalam hati

Hari ini,
si mas lagi badmood, kebanyakan manyun.
satu-satunya yang membuat saya gemes adalah..dia belum bercukur.
sedangkan saya? makin hari makin pingin makan kertas yang bertebaran di meja saya.
hehe, bercanda kok . Hari ini saya cuman kepingin pizza.


PS : besok sudah puasa, maaf lahir batin ya penghuni oldman *sungkem* :)

21 Juni 2013

#Deg..



Hari itu,
saya dibuat deg-degan.
Bagaimana tidak, pandangan kami beradu
tanpa sadar, saya tersenyum, dia tersenyum..
Hari itu,
saya dibuat deg-degan.
ketika saya memanggilnya tanpa alasan yang jelas, kami mengobrol
lalu saya kembali melihat senyum itu.
Hari itu,
saya lebih deg-degan lagi,
alih-alih menggoda dia dengan menjawab pertanyaan dia asal-asalan
cubitan kecil mendarat dilengan saya,
yang saya hindar, tapi malah tangan kami malah saling menggenggam.
Saya lepas, saya tersenyum nakal, dia tersenyum dengan jenakanya.

Lalu,
Hari ini,
Ketika kami tidak akan bertemu setidaknya sampai bulan depan,
saya merasa kehilangan,
kehilangan senyum itu.
Lalu, tanpa sadar jemari saya dengan lincahnya mengetik sesuatu di layar hape saya
"mas, maen ice skating yuk"
-save as draft-

PS : kenapa pulak gue tulisnya maen ice skating yak? --"
gambar diambil dari sini

31 Mei 2013

accidentally,



Hari itu..
Kami tidak sengaja memakai baju yang sama..
tidak sengaja memesan menu yang sama..
tidak sengaja jalan bersama..
Tidak sengaja membeli hape bersamaan dengan warna yang sama..
tidak sengaja duduk berdampingan..
tidak sengaja mendengar dia tertawa lepas..
tidak sengaja melhatnya tertidur pulas..
tidak sengaja memeliki status yang sama..

Hari itu..
disamping dia duduk
disamping dia tertidur pulas
saya memejamkan mata, berharap, berdoa
semoga ketidak sengajaan ini bukan kebetulan,
semoga orang ini, yang saya panggil Mas Gendut
akan tetap bersama saya.
AMIN.

22 Mei 2013

Rencana Kabur

Tadinya, Lebaran tahun ini sudah merencanakan pelarian. Kabur, tidak di rumah. Capcus ke kota lain dan mengurung diri di kamar hotel sampai tiba waktunya pulang, dua hari kemudian.
Begitu banyak kejadian yang menyebalkan, yang bikin saya nggak sudi ketemu muka dengan para biang keroknya.

Jangankan ketemu, salaman dan ngomong saja sedang malas super akut. Saya masih sakit hati. Meskipun, kata Nabi, memaafkan itu jauh lebih utama daripada menyimpan dendam, apa lagi memberi balasan.

Tetapi kalau saya kabur, siapa yang mengurus ayah saya coba? Selama ini cuma saya yang bisa diandalkan. Kasihan juga kalau tidak ada yang menyiapkan pakaian ayah saya untuk sholat Ied, membuatnya merasa nyaman di tengah begitu banyak ipar dan keponakan almarhum Ibu yang selalu berkumpul di rumah kami.

Saya harus membersihkan rumah. Sendirian, tentu saja. Mengganti semua sprei, sarung bantal, taplak meja. Membersihkan kaca dan tirai jendela. Lagi-lagi sendirian. 

Jadi, yah...
Terpaksalah, saya nggak jadi kabur. Meskipun keinginan itu sangat menggoda. Saya membayangkan kabur ke Jogja. Membayangkan tidur berleha-leha menonton tv sendirian atau browsing sana-sini tanpa ada gangguan. Jalan-jalan mencari makanan atau belanja. 
Sholat Ied di masjid terdekat, lalu pulang ke hotel. Saya nggak perlu makan ketupat opor. Toh, tiap hari bikin juga bisa.

Tetapi, ya itu tadi.
Kayaknya tidak bisa. Sigh!

17 Mei 2013

i'm swiss..




Pernah tidak kalian berada di suatu keadaan, dimana hati kalian bilang "tidak" tapi yang bisa kalian lakukan hanyalah tersenyum dan bilang "iyya yah?"
Sudah beberapa kali saya berada di situasi seperti itu, ketika saya lagi ngobrol dengan seseorang atau segerombolan orang, dan saya hanya bilang bilang iyya, atau pura-pura bego, walaopun dalam hati saya berkata " i have enough with this conversation "

Iyya, saya memang ga ngungkapin apa yang ada dalam hati saya, saya ga enak, percakapan yang seru itu tiba-tiba harus berakhir garing kalo saya tiba-tiba nyeletuk. Yang ada malah, saya merasa bersalah karena berada dalam percakapan itu.

saya jadinya curhat ya? iyya! Berada di tempat baru & menjadi anak baru itu emang harus pintar-pintar masang bendera Swiss seh. Yang perlu dilakukan hanyalah mendengar, komentar yang netral tanpa memihak, dan senyum.

aakkk....aku kudu piye, tuips? #eaaa

PS : Gambar diambil dari sini






21 Maret 2013

Number 2...




Tadi malam tadi saya lagi lenyeh-lenyeh sambil ngintip twitter, sampai akhirnya..saya tahu kalo teman saya, yang sudah 4 tahun berpacaran, sudah 2 tahun LDR-an putus. Penyebabnya? orang ketiga!. Lalu, cewenya tahunya dari mana? twitter!
Ihh..rasa-rasanya saya gemes, sebel, pingin nimpuk, pingin jambak-jambakin rambutnya. Walopun yang selingkuh itu teman baik saya.
Iyyaa..sepertinya ini memang curcol juga, karena saya juga pernah ngalamin. Teman saya itu pacaran dengan junior di kampus, saya mengenal keduanya, bahkan saya sedikit iri dengan mereka. Pokoknya gemes..gemes..gemes..

Lalu, saya coba hibur secara ga langsung ke junior saya " coba deh baca trave(love)ing " kata saya , "bagus kak?" tanyanya " it's about move on with travelling " jawabku. Hanya itu yang saya bisa bilang ke dia, dan sepertinya dia mengerti. Lalu, bagaimana kabar teman saya? entahlah..tapi kata kabar burung ( baca : twitter) dia sudah fitting baju. Ahh...saya ga mau terlalu mencampuri urusan orang, yang saya tahu diselingkuhi itu sakit. kalo menyelingkuhi?? err... :/

Kalian ada yang pernah seperti diatas? ato malah pernah jadi oknumnya? *hallah* . Saya pernah keduanya. dan saya sudah merasakan karmanya. Itulah mengapa saya pernah bilang 'sayang, hati-hati main hatinya".


PS : Gmabar diambil dari google.com


Girl Talks #6

Di suatu sore yang berhujan. Percakapan pesan pendek antara dua teman yang suasana hatinya sedang random.

Madam R: Sori, baru bales. Lagi beres-beres abis pindahan...
Stupid E: Cieee rumah baru! Berdua lagi sama housemate? Terus berdua sama suami kapan? 
Madam R: Iyaaa... kapan ya? Kapan Marcel ngelamar guaaa?
Stupid E: Hadeeeh!
Madam R: Eh, gue ngeces Marcel dari doloooo!
Stupid E: Ngeces doang. Kejar dong!
Madam R: Nggak pedeee...
Stupid E: Sama nggak pedenya aku pada Nicholas Saputra huhuhu....

Sungguh percakapan yang (nggak) penting, bukan? ^^

4 Maret 2013

Dear X..




Dear oldman's reader..

*lagi ditelpon*
Saya : siapa ya?
Mantan : masa ga kenal, kita kan teman TK
saya : teman TK? ohh..adi, iyya..kenapa di?
Mantan : kok ada seh..ini aku, Cecep *nama disamarkan*
Saya : ohh.. cecep,sorry nomor yang ini ga ke-save,simpati doang di aku,btw kenapa cep?

#Fakta : nomor itu belum hilang sama sekali dari phonebook saya..

*ditelpon lagi*
Mantan : lagi dimana? jalan yuk..
saya : lagi dijalan, mau ketemuan sama anak-anak. Yaudah ikut aja, di Sabang kok
Mantan : dimana tuh? selatan ya? eh..bisa telpon balik ga? pulsaku menipis neh
Saya : hello..masih aja?? pulsa gue juga limit kali..
*telpon tiba-tiba terputus*

#Fakta : pulsa saya masih terbilang cukuplah buat nelpon balik..

*lagi-lagi ditelpon*
Mantan : aku pulangnya besok, ketemuannya bisa?
Saya : kamu pulang jam berapa emang?
Mantan : kalo kamu bisa nemenin jalan, aku ambil pesawat sorean deh..
Saya : hmm..besok mau jalan sama masnya, jalannya pagi seh..
Mantan : trus bisa ga? siangan gitu, soalnya mau booking tiketnya sekarang
Saya : yaudah deh, kamu pulang pagi aja, takutnya aku ga bisa, lagi jalan sama masnya soalnya.

#Fakta : Saya lagi ga ada janji dengan masnya seh ..

Saya seh bukannya benci sama mantan, cuman ada beberapa hal yang menurut saya,harus dia rasakan. Eh..ngomong-ngomong saya jahat ga seh? ato..ada yang punya pengalaman kaya saya? :3

PS : gambar diambil dari sini

28 Februari 2013

Cinta (tak) terucap..




Dear Oldman's reader..

Saya lagi jatuh cinta. Jatuh cinta sama lelaki yang saya tahu dia orangnya serius, yang saya tahu dia orangnya gila kerja, yang saya tahu dia orangnya harus sarapan tiap pagi, yang saya tahu dia penggemar filsofi, yang saya tahu dia penyuka pantai. Iyya, itu yang saya tahu.
Mungkin ini akibat menonton Rectoverso, yang katanya 'Cinta tak terucap'. But honestly, mungkin sebaiknya seperti itu. Tapi, apa sebaiknya seperti itu? kata teman saya " jaman gini, taon 2013 masih nunggu dia yang duluan? c'mon..laki & perempuan sekarang udah sama derajatnya" then..saya hanya menganguk mendengar penjelasan teman saya yang panjang lebar.

Lelaki ini, terlalu baik, terlalu alim dibanding saya, terlalu ganteng, terlalu pintar, terlalu filsofi, dan terlalu sering senyum. " Lalu, apa yang salah bok?? he's perfect! buruuu deh.." lanjut teman saya..dan saya masih saja menganguk..
Tapi..sayangnya..lelaki ini kurang peka, kurang humor, kurang gaul. " nah..itu dia, loe kan udah gaul, peka banget jadi orang, terlalu ramah pulak, lengkap lah" lanjut temman saya lagi.

Lelaki ini terlalu teknis, terlalu ngandelin otak daripada perasaannya, terlalu kompeten dimata semua orang..
" bok..laki itu emang kebanyakan gitu, apalagi kalo orangnya tipe-tipe orang teknik kaya dia,makenya logika mulu', kompeten menandakan dia mampu..tanggung jawab di mata orang. ahh..bribet deh loe..saran gue cuma 1, Buruuu deh.." lanjut teman saya lagi

Jadilah malam itu, saya kebingungan menatap layar hape, sibuk mengetik sms lalu delete, ketik lagi lalu delete lagi. sampai akhirnya.. " mas, Udah baca bukunya Dee Lestari kan? mau nonton Rectoverso ga? "
Sms Delivered.

PS : Gambar diambil dari sini

6 Agustus 2012

movin' on..




Sebelumnya, saya akan bilang, kalo tulisan ini akan mengandung curcol dari yang nulis. Jadi, apa yang kalian lakukan jika tiba-tiba suatu malam tanpa sengaja menemukan file rekaman lagu dari mantan yang notabene baru putus beberapa minggu yang lalu?
saya, tentu saja mendengarkan rekaman itu sampai selesai dan ampe sekarang pun masih terputar terus di winamp saya.
Rekaman lagu ini, harusnya saya dengar setahun lagu, tapi waktu itu saya masih terlalu cuek, dan malam ini, saya benar2 kangen dengan dia. Ahh..seandainya move on itu semudah bepergian ke thailand seperti di video klip andien yang 'movin' on ',saya mungkin juga sudah ikut-ikutan ke Thailand hahaha.. Saya pernah membaca di akun social media, twitter, bahwasahnya move on itu sangatlah gampang jika kita:
1. sibuk
2. punya banyak uang

Jadi, apakah kalian sudah benar-benar 100% move on dari mantan? :D

ps : gambar diambil dari sini

13 Maret 2012

Girl Talks #5

Madam R: Kecerdasan memang bikin cowok jadi keliatan keren, iya kan? Sayangnya susah dapat yang tampan sekaligus cerdas.
Stupid E: Aku pernah dapat yang cerdas satu kaaan? Sayangnya sakit jiwa.
Madam R: Nggak ganteng pula
Stupid E: Jiwa yang tidak jelas. Melayang-layang di udara. Tidak ke Barat, tidak ke Timur. Tidak ke Utara tidak juga ke Selatan. Bagaikan tidak diterima langit dan bumi.
Madam R: Bahasamu kayak cerita Pendekar 212.
Stupid E: iya memang kebanyakan baca Wiro Sableng kayaknya wakakak...

Percakapan antara kami terkadang bernada sarkastis. Toh memang percakapan antara kami berdua saja (yang hari ini iseng saya cuplik di sini haha).

26 Februari 2012

Girl Talks #4

Stupid E: Ada tulisannya tentang kematian seseorang yang kesannya pilu. Siapa ya? Kucingnya? Haha jadi menganalisa orang gini gueee...
Madam R: Nggak mungkinlah kucingnya.

............

Kamu tidak akan pernah tahu, bahwa diam-diam kami suka membicarakanmu. Kamu bahkan tidak tahu kalau diam-diam kutimbun semua jejak percakapan itu (sampai Madam R terbahak-bahak di ujung sana).

Iya, aku memang konyol. Tapi tindakan berjaga-jaga itu perlu. Karena seperti kubilang pada Madam R, aku tidak tahu kamu bagaimana, seperti apa. Maksudmu, tujuanmu... aku tak tahu.

Aku cuma penggemarmu. Itu saja dulu :)

pict from here

9 Februari 2012

Day by day


"Maaf ya tadi malem aku egois banget rasanya, padahal itu kan suka-suka kamu mau cari cewek lain atau gimana"

"Nah kalo kamu kayak gini terus, kapan bisa cari cowok lain coba"

"Iya sih, haha... Sayang ya kita bukan yang terbaik untuk masing-masing dari kita"

"Ya begitulah..."


This morning was cold. Still you are the first thing on my mind. Its almost six month and I still cant found 'the closure' for our relationship. He pisses me off when he can easily say he love me but few hours later say he want to find another girl. Yeah, boy, I cant read whats in your mind. Maybe it simply because you now we are not going anywhere.

22 Januari 2012

Rindu


Dear You, Long weekendku akhirnya isinya cuma merindukan kamu. Kamu yang masih super sibuk justru semakin sibuk di hari libur seperti ini.
hahaa..poor me..kamu sibuk, aku lagi gak sibuk, jadinya malah sibuk gangguin kamu pakai sms-sms gak penting sekedar mengingatkan aku masih ada di dunia ini :D #geje.

You : " Kamu kenapa ? "
Me : *Nyengir kucing*, "gak papa hehee..."

*Mau ngomong rindu aja kok susahnya minta ampun :P*

11 Januari 2012

Mandor

Mereka yang biasa berurusan dengan mendiang Ibu lalu berurusan dengan saya biasanya terkaget-kaget. Itulah yang terjadi pada Tante saya kemarin sore.

Ceritanya, ia akan membangun pabrik pengolahan limbah plastik menjadi bijih plastik. Saya diberi tugas menjadi caretaker-nya. Mulai dari bersih-bersih lahan yang akan dipakai bangunan sampai nanti kalau pabrik sudah berdiri. Mengurusi bahan baku, para buruh, dan lain-lain.

Padahal saya masih punya dua proyek buku. Satu novel (lagi) dan satu kumpulan cerpen. Tapi pekerjaan ini sepertinya menantang sekali. Dan bagi saya, segala hal yang berbau tantangan itu menarik dan tidak boleh dilewatkan.

"Orang-orang yang membersihkan lahan itu kan harus diberi makan ya Mbak?" Tanya tante saya. Ia biasa memanggil saya 'Mbak', meniru anak-anaknya. "Suruh saja orang memasak."
Cuma tiga orang kan? Biar saya saja, kata saya. Apa susahnya memasak buat tiga orang.
Lalu Tante memberikan sejumlah uang untuk dana operasional.
"Ini kurang lho, Tan," ujar saya tanpa tedeng aling-aling.
"Kok kurang?" Tante saya memperhatikan lembaran-lembaran seratus ribuan yang sudah saya terima dan sedang saya kibar-kibarkan.
"Kurang. Serius deh. Yuk Tan, kita hitung!"

Saya mengambil kertas, pensil dan kalkulator. Mulai merinci setiap hal apa saja yang biasanya akan muncul dalam pekerjaan membersihkan lahan. Selain makan nasi dan lauk pauk, juga ada rokok, kopi, cemilan, teh panas.

"Rokok mengambil porsi dana yang paling besar dalam sehari, Tan," kata saya. "Tiga orang tiga bungkus. Kalau satu bungkus rokok itu seharga tujuh sampai delapan ribu saja, dikali tiga sudah berapa tuh? Itu untuk sehari. Kalau pembersihan lahannya memakan waktu sampai seminggu, untuk rokok saja uang segini masih kurang." Saya nyengir.

Saya juga menghitung kopi dan gula, juga cemilan untuk tiga orang. Teh panas juga saya labeli biaya. Bahkan bahan bakar juga.

"Memasak dan menjerang air menggunakan gas. Setidaknya kita harus hitung biaya pembelian gas ukuran 3 kilogram. Cukuplah itu untuk memasak sekitar satu-dua minggu."

Tante saya terbengong-bengong. Saya tahu ia agak syok. Biasanya kalau urusan menjadi caretaker itu ditransaksikan dengan Ibu, tidak akan ada hitung-hitungan detail seperti yang saya lakukan. Ibu pasrah saja diberi berapa pun dana operasional. Ujung-ujungnya pasti nombok. Tetapi Ibu saya yang baik hati itu tidak akan meminta uang ganti. Meskipun urusannya berkaitan dengan bisnis.

Prinsip saya jelas berbeda. Yang akan dibangun ini pabrik. Urusan bisnis. Bagi saya yang memang digembleng zakelijk (saklek) di kampus hukum dulu, segala sesuatu harus ditempatkan sesuai dengan tujuannya. Business is business. Orang Betawi bilang : kagak ade urusannye ame sudare. Saya tidak mau uang saya terpakai untuk urusan bisnis orang lain. Kalaupun harus terpakai dulu, saya akan minta ganti.

"Nah, kalau pekerjaan ini sampai lima hari saja, uangnya kurang kan Tan?" Saya nyengir lagi.
Tante saya tak berkata apa-apa. Ia mengeluarkan lagi beberapa lembar seratus ribuan dari tasnya.
"Nanti Tante tinggal lihat catatan pengeluarannya." Saya mengacungkan buku notes yang sudah saya siapkan sejak pagi.
"Buku buat apa itu?"
"Buku kas dong."
Tante saya geleng-geleng kepala. Pasti dia tambah heran. Urusan tiga orang pekerja saja kok ribet betul. Ia tidak tahu bahwa soal uang orang lain, saya ini selalu hati-hati. Jangan sampai ada yang bilang saya menilap. Lagipula saya memang selalu sungguh-sungguh kalau diberi tanggungjawab.

Lalu Tante saya mulai membicarakan lagi soal pabriknya dan mesin-mesin yang akan datang beberapa hari lagi. Mengulangi lagi 'sabdanya' agar saya menjadi caretaker.

"Gaji bulanan kan?" Lagi-lagi saya 'ngelunjak'.
"Iya."
"Di atas UMR lho, Tan."
"Iyaaa."
"Sip, sip!" Saya bertepuk tangan. "Oh iya Tante, kursnya dollar kan?"
Tante saya melotot.
Oke, itu pertanyaan yang salah. Jadi saya kabur. Sambil cengengesan tentu saja. Hahaha.

pict from here

7 Januari 2012

I dont argue like this with anyone but you

Tebal
I know it’s not perfect, but it’s life. Life is messy sometimes.
(Edward Levangie in Grey’s Anatomy)

Sudah bulan keempat dan entah sudah pertengkaran keberapa kali yang kami lalui.

"Memang menurut kamu ini berantem?"

"Ya kamu tiba-tiba marah dan ngediemin aku?"

"Terus apa bedanya berantem dan aku ngediemin kamu?"

"Ya karena berantem kamu jadi gak peduli, kan. Emang menurut kamu apa bedanya?"

"Gak tau"


Pertengkaran konyol. Polanya selalu sama. Terutama menjelang deadline bab.1 skripsi kami dan tekanan tugas akhir semester. Dan di tengah-tengah hal konyol begini, di tengah kejaran deadline yang tidak mengenal ampun, masih bisa-bisanya aku tersenyum dan menyadari bahwa di saat begini justru aku makin sayang sama laki-laki kepala batu satu itu.

Awas kamu, ketemu nanti aku jitak (dengan penuh kasih sayang).

24 November 2011

Girl Talks #2

Siang ini.

Stupid E: Nanti kapan-kapan kucolek deh dia kalau inget.
Madam R: Nggak usah. Orang nggak jelas gitu. Buat apa?
Stupid E: Kan kubilang kalau inget....
Madam R: Aku doakan mudah-mudahan nggak inget. Amiiin.
Stupid E: Segitunya! *terbahakbahak*

Situasinya jadi aneh. Saya sudah move on, sudah tak merasakan apa-apa lagi terhadapnya. Tidak cinta, tidak rindu, tidak sayang, bahkan tidak pula benci.

Sebaliknya, seolah-olah dia masih saja tetap dalam kegalauan *otakku belum jernih-menurut istilah dia sendiri*. Membuat saya ingin mengguncang-guncang badannya sampai rontok dengan kejengkelan tingkat dewa.

'Hey, apa lagi sih yang kamu risaukan? Kamu sudah berhasil menghancurkan hatiku, dan sekarang aku kembali ke bumi dengan baik-baik saja-meski hatiku penuh tambalan. Aku sudah pulih, kenapa kamu belum?'

Sejujurnya saya ingin sekali masih berteman dengannya. Tetapi ia menyembunyikan diri di negeri Galauland itu dan menolak pindah ke Realityland. Sekalinya bicara, yang terucap dari mulutnya cuma kata 'maaf' yang membuat tensi saya naik. Saya bosan dengan kata 'maaf.' Orang-orang terlalu mudah mengucapkannya, tetapi kemudian dengan sama mudahnya, membuat kerusakan lagi.

Beberapa teman jadi ikut sebal. Mereka bilang sebaiknya saya tidak usah lagi berurusan dengan dia. Tapi bagaimana mungkin? Saya kok kasihan melihat dia tampak terkucil di tengah dunia yang ramai hingar bingar ini (meskipun mungkin tidak seterkucil itu juga sih). Dulu dia pernah menjadi bagian dari dunia yang penuh canda ini.

Saya ingin mengulurkan tangan padanya. Tapi mereka bilang: orang yang nggak jelas apa maunya biarkan saja di sana,

Yah.. gimana sih?

pict from weheartit.com

11 Oktober 2011

Girl Talks

Siang itu.

Stupid E: .... dan aku nggak bisa kayak yang lain itu, yang langsung pengen ngelupain, pergi dan bilang mau move on. Setidaknya aku merasa berhak atas penjelasan kenapa semuanya jadi begini... Aku bodoh ya? Aku salah nggak sih? Salah ya?

Madam R: Nggak. Reaksimu wajar kok. Yang nggak wajar itu dia. Galaunya kelamaan.

pict from here