28 Januari 2010

anything but (not) you



Bayangkan gimana kalau saat ini salah satu sahabat elo sedang jatuh cinta setengah mati dan tergila-gila dengan seorang cowok. Yang bahkan sampai sms elo cuman buat nanyain cowok itu lagi ngecek hape atau enggak (kondisinya gue lagi barengan sama tu cowok soalnya), dan mastiin cowok itu buat bales sms si sahabat gue.
I know she deeply madly in love with him.

Tapi gimana kalau gebetannya sahabat elo itu malah suka sama elo?
What would you do?
Jaga jarak kah? Atau menikmati perasaan terlarang (halah) itu???
Well, I’m just curious.

Omong-omong soal ingin tahu, gue enggak segitunya bakal nge-khianatin sahabat gue sendiri dengan bales suka perasaan gebetannya dia. Lagian jangan sampe si cowok itu suka sama gue. Hahaha.
Yah, semoga feeling gue salah deh.

inikah rasanya...???



aq adalah anak pertama dari 4 bersaudara..
2 cewe dan 2 cowo..*sepasang* :)
dulu seorang temanku pernah mengatakan
" enak y chie...punya banyak sodara..pasti rumahnya rame banget..ga kaya rumahku sepi.. "
*maklumlah..dy anak tunggal*
dan dy benar..karena mempunyai banyak sodara rumahku pun selalu rame oleh teriakan2 adeku..suara musik yang terlalu bising...suara tivi yang terlalu keras..dan juga suara pertengakaran2 antar sodara..
yupz..banyak sodara membuat aq dan sodara2ku yang laen biasanya diselingi pertengkaran2 kecil *lemparin kakaknya make panah2 maenan..jitakin ade..saling jambakk*
upzz...tapi itu dulu...waktu kami semua masih kecil dan belom terlalu mengenal arti persaudaraan *sighh...* :p
dulu..disaat aq sering berantem dengan sodaraku..dalam hati biasanya aq berkata
" enakan jadi anak tunggal kali y..g ada ribut2..minta apa aja pasti diturutin.."

dan akhirnya....aq merasakannya...
bukan anak tunggal dalam arti sebenarnya...sejak tinggal di jakarta bulan lalu, otomatis aq menjadi anak tunggal disini...ada ayah..ada ibu *walopun sering PP jakarka-makasar*...dan hanya ada aq karena sodara2ku berada di makassar..
rasanyaa??????.....
hmm.....SEPIIIII....>,<
rasanya g enak...kalo mw pergi g ada yang nanyain " chie mw kemana??nitip d'crepes y"
kalo malam biasax ribut2 ma ade ganggti2 chanel tv..sekarang malah ribut2 ma ortu..kalo pagi biasanya ada yang *sok2* nyium tangan kalo mw k sekolah...sekarang ga ada..kalo biasanya di mobil selalu ribut buat nyari tempat makan enak sekarang juga dah ga ada..kalo biasanya makan pizza nya berebutan sekarang malah adem ayem ajah...
arrgghhh.....
inikah rasanyaaaa????????????.....

27 Januari 2010

Teganya

Hai Guys... *celigukan nyari penghuni rumah*
Ini rumah kok sepi banget yak...
Mumpung lagi ga ada orang, aku mau pinjem kamar buat menye-menye bentar. 15 menit aja.

Aku sedang kecewa, marah, sedih. Di kost aku meraung. Aku sudah ga tahu lagi gimana cara membuatmu nyaman. Kamu terlalu memaksaku dengan caramu yang lama-lama membuatku merasa marah. Kamu kan tidak tahu kalo selama ini, aku terus mengalah. Demi sesuatu yang kujaga agar tidak bubar. Sesuatu yang kuanggap lebih penting dari rasa sentimentilku.

Kalo saja itu bukan kamu, sudah kuhabisi kamu tanpa sisa. Teganya kamu padaku... Memperlakukan aku seolah semua yang kulakukan ga ada yang bener dimatamu. Semuanya salah !! Sementara pada yang lain, kamu sedemikian toleran. Tapi, kalo aku yang salah, tanpa ampun kau menggilasku.

Aku marah padamu. Saking marahnya, aku jadi sedih. Dadaku sesak, asmaku kumat, leherku tegang. See... Semua penyakit yang hanya datang kalo aku udah overload ramai-ramai menghampiriku.

Aku mati-matian menjaga perasaanmu, tapi kau selalu menemukan celah untuk memojokkan aku. Membuatku seperti terdakwa yang tidak punya hak membela dirinya. Kau kejam !!

Aku berusaha tulus melakukan apa yang kubisa untuk membuatmu nyaman. Tulung, hargai sedikit saja apa yang sudah kulakukan. Aku tidak pernah memintamu memahamiku. Tidak perlu. Mungkin aku memang terlalu complicated bagimu yang simple. Biarkan aku menjadi diriku, seperti aku tidak pernah memintamu menjadi yang lain. Aku menyukai semua yang ada padamu & tidak ingin kamu merubah apapun. Kamu orisinil, itu yang membuatku betah.

Aku masih punya sedikit tenaga untuk bertahan. Smoga ini cukup. Mungkin, aku memang terlalu memaksa diriku & tidak memberi jeda sekedar untuk bernafas. Aku mau istirahat...

Guys, aku pamit yak... Mau ngebo dulu dikost, kepalaku sakit lagi...

23 Januari 2010

I Hate Copycat

Sejak kecil saya ini ditakdirkan selalu bikin orang kepingin ngikutin apa yang saya pakai sampai apa yang saya lakukan. Anak tetangga bisa nangis guling-guling kepingin punya jaket atau kemeja seperti yang saya pakai. Beberapa teman lainnya bahkan ada yang sampai meniru-niru apa yang saya sukai dan tidak sukai. Parah!

Entah apa yang mereka lihat dari diri saya. Sumpah, saya nggak ngerti. Saya ini dulu cuma gadis kecil yang hidup pas-pasan, sakit-sakitan, yang kadang-kadang nggak bisa beli baju lebaran karena ortu nggak punya uang. Kalaupun saya punya pakaian baru, itu dijahit ibu saya sendiri. Bukan baju toko yang mahal dan bermerek.

Saya juga penyendiri, dan kalau main biasanya dengan anak lelaki. Saya jarang pakai rok, berambut pendek (kalaupun sempat dipanjangkan selalu dikuncir ekor kuda atau dibentuk cepol asal-asalan), punya penyakit asma, dan bandeeeellll banget!
Karena saya penyendiri itulah saya benci diikuti, dibuntuti, dan ditiru. Apa bangganya sih ditiru orang lain? Berasa selebriti? Idih, saya bukan selebriti kok!

Kebiasaan yang sampai sekarang masih melekat pada saya adalah: saya akan langsung membuang atau menyingkirkan barang apapun yang disamai oleh seseorang secara sengaja. Waktu kecil, saya pernah membuang baju saya ke tong sampah ketika anak tetangga memakai baju yang sama, meski beda warna. Saya juga jadi mendadak nggak suka dengan penyanyi yang tiba-tiba ikut disukai teman saya.

Saya risih dijadikan role model atau patron oleh orang lain dalam arti copycat alias penjiplakan. Oke, saya bangga kalau bisa mempengaruhi orang menjadi postive minded melalui saran-saran atau tulisan saya. Tapi saya nggak suka orang meniru kehidupan pribadi saya. Sebab belum tentu itu akan mendatangkan kebaikan pada yang bersangkutan.

Setiap orang mestinya menjadi diri sendiri. Punya keinginan berdasarkan nurani sendiri, melakukan apapun yang menjadi seleranya sendiri, mendapatkan apa yang DIA dibutuhkan bukan berdasarkan apa yang ORANG LAIN butuhkan.

Saya pengikut setia tren mode. Tapi hanya mode yang cocok dengan diri saya. Saya nggak menampik bahwa saya juga suka tertarik melihat gaya pakaian seseorang. Tapi harus saya pikir berlipat-lipat dulu dan tidak akan saya ikuti jika tidak cocok dengan saya. Saya nggak mau disebut celamitan dan norak.

Beneran deh, sampai sekarang saya nggak ngerti kenapa orang-orang suka mengikuti kelakuan saya. Padahal saya ini paling nggak mau diikuti orang lain. Paling nggak suka sama dengan orang lain. Waktu kecil saya yang miskin ini dibedakan oleh kakek saya yang suka pilih kasih itu, jadi biarlah saya ini jadi orang yang berbeda dengan orang lain.

Aneh? Iya, saya memang aneh. Tapi mereka yang suka ngikutin saya juga lebih aneh lagi.

22 Januari 2010

What Women Want




Dalam sebuah obrolan, seorang teman laki-laki bertanya "harus gimana sih memperlakukan perempuan? aku bingung. Kayaknya serba salah". Mmm...menjawab pertanyaan ini emang susah-susah gampang. Seandainya semua bisa dibuat lebih praktis seperti dalam filmnya Mel Gibson dimana kamu tiba-tiba bisa mendengar isi hati para perempuan dan dari situlah kamu jadi tau apa yang sesungguhnya mereka mau.

Tapi dunia nyata bukan film. Ketika itu saya pun rada bingung menjawab pertanyaan si teman. Karena perempuan memang makhluk yang sulit dipahami. Yes people, kami-kita-makhluk perempuan-ini memang dibesarkan dengan sistem yang kompleks, yang membentuk kami pun menjadi pribadi yang kompleks. Kami boleh mengekspresikan apa yang kami rasa, tapi untuk hal-hal tertentu, kami diharuskan tertutup. Nah bingung kan? T

Temen-temen harus banyak baca kajian gender mainstreaming untuk bisa memahami kondisi ini hehehehe. Tapi ada sebuah benang merah yang sangat jelas, walaupun gak juga memecahkan masalah, untuk bisa mencoba memahami perempuan. It called sensitivity.

Kata orang, perempuan itu makhluk sensitif, dan benci mengakui ini, tapi stereotip ini benar. Ini karena makhluk perempuan dibesarkan untuk menjadi perasa. Sejak kecil dia sudah dibebankan berbagai tanggung jawab yang kebanyakan seputar mengurus orang lain dan sekitarnya. Maka itu dia dituntut untuk lebih peka pada sekelilingnya dan itu membentuk perempuan sampai dewasa. Makanya, kepekaan sangat dibutuhkan untuk memahami perempuan.
Dan temen saya makin bingung dengan penjelasan saya yang emang mbingungi ini hahahaah!.

Intinya, laki-laki dan perempuan memang berangkat dari titik pandang yang berbeda. Kalo laki-laki mau mencoba mengerti perempuan, berpikirlah seperti perempuan. Jangan pukul rata. Yang saya dengar dari temen-temen laki, laki-laki itu makhluk pukul rata. Mereka memperlakukan teman laki-laki mereka semua sama.
Well, gak bisa gitu kalo sama perempuan. Mengingat perempuan itu makhluk yang unik, para laki-laki gak bisa pake teori "one for all" untuk semua perempuan. Setiap individu perempuan harus dilihat sebagai dirinya, bukan sebagai kaumnya. Sebagai contoh, gak semua perempuan ingin diperlakukan bagai benda rapuh karena sesungguhnya perempuan makhluk yang sangat kuat, tapi ada kalanya ia memang sedang rapuh dan ingin dimanja, dan untuk tahu keinginannya ini, kita mesti kayak sponge kering. Hold still and pay attention, berusaha serap banyak hal dari sikapnya baru kemudian sarikan. Jangan terlalu cepat menyimpulkan.

Makanya tadi saya bilang, be sensitive, and sensitive also means gak grasa grusu. Ngerti kan deen? loh kok jadi ke deni hihihih.

Ok, sebagai penutup, ijinkan saya menceritakan sesuatu biar tulisan ini makin sulit dimengerti dan gak jelas juntrungannya hauahuahauha!.

Suatu hari saya putus dengan seseorang. Didalam mobil, dibawah pohon beringin rindang yang oh rada menyeramkan, kami bicara. Intinya, hubungan itu sudah gak bisa dipertahankan lagi dan saya pengen semuanya selesai.
Ketika saya akan keluar mobil, si mantan menarik tangan saya, persis kayak pelem India ah tarik-tarikan.

"Tunggu!" dia bilang. "Kita masih bisa memperbaiki semuanya". Saya bilang gak. "bisa aku anter kamu pulang?", kata si mantan.
"Gak usah, saya bisa pulang sendiri", padahal boong hahhahaha! karena saya memang pengennya dianterin pulang, tapi daripada jujur dan tengsin, saya malah mengatakan hal sebaliknya. Saya pun banting pintu mobil.
Jalan beberapa meter, saya masih belum mendengar mesin mobil dinyalakan.
"Oh mungkin dia sedang berpikir hihihihih", kata saya dalam hati. Langkah saya bertambah. Sebenernya saat itu saya sangat berharap dia mengejar saya dari belakang dan keukeuh ingin mengantarkan saya pulang.

Oh saya dengar suara mesin mobil! dia pasti nyusul saya hihiihihi. Dari ekor mata, saya melihat mobil dia mendekat. Eh tapi kooook, dia lewat ajaaaa! sialan! kampret! ternyata dia lewat aja gitu! Huh! Yaa yaa akhirnya saya pulang sendiri, menanti angkot di jalan sepi, masih untung gak diangkut sama satpol PP!

Sepertinya benar juga yang dikatakan orang-orang, perempuan itu lain di mulut lain di hati, hihihihihi.