17 Desember 2010

Quote of The Day

"bagi gue, pernikahan adalah memilih teman seumur hidup. Ketika sudah tua nanti, ketika rasa cinta yang menggebu seperti saat ini sudah mulai pudar, ketika kami berdua sudah mulai keriput, yang tersisa hanya gue dan Endah yang mengobrol layaknya teman lama"

by Rhesa (Endah N Rhesa) - for HAI Magazine

4 Desember 2010

kawans..

Dia..
temanku sejak 11 tahun yang lalu,dari SMP ampe SMA dia tetap jadi sahabat baikku.Bahkan setelah kami terpisah sewaktu kuliah, dy tetap menjadi sahabat baikku.
Dia..
paling tinggi diantara kami semua. mungkin karena tingginya itu, dy yg paling menonjol.
Dia..
yang ngajarin aq mathematika, kimia, fisika, apapun yg berhubungan dengan exact dy selalu menjadi no.1 diantara kami..
Dia..
dibalik umurnya yg paling tua diantara kami, ternyata kechildish-an nya ga kalah sama kita2 fufufufuu..
Dia..
pathner in crime ku jaman dahulu :P
Dia..
tempat yang enak buat jadi sasaran curahan hati.. :D
Dia..
orang yang paling sabar..
Dia..
orang yang paling cengeng diantara kami..
Dia..
selalu dapat diandalkan ketika aq terlantar.. fufufuu..
Dia..
ahh..sudahlah...dy salah satu sahabat terbaik yang aq punya,,




Dan Dia..
yang selalu aq sebut2 diatas..sekarang..hari ini memulai babak baru dalam hidupnya.
iyya..hari sahabatku Alfinia Azizah akan menikah.
Selamat berbahagia kawan, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawardah warrohmah.. amin..

PS : Alfinia yang paling tinggi difoto :D

22 November 2010

Hidup Tenang



Majikan yang baik adalah yang bisa mendidik pembantunya menjadi lebih baik lagi. Betul tidak sih? Tapi yang jelas, pembantu saya yang bolot itu akhirnya mulai bisa mengerti cara kerja yang saya inginkan.

Ah, senangnya ....

Makan selalu dihabiskan. Mencuci piring menunggu saya selesai masak dulu supaya tidak bolak-balik bikin pusing. Kamar mandi selalu bersih dan wangi. Tidak terlalu banyak mengoceh tak penting dengan suaranya yang cempreng. Tidak setiap saat mengeluh hendak pinjam uang. Melipat mukena sehabis disetrika dengan benar. Menghamparkan seprei lebih dulu di atas alas setrikaan agar sekaligus tersetrika dengan rapi. Mengerti suhu panas setrika yang ada di tombol putarnya. Dan lain-lain. Dan lain-lain.

Dan ia belajar memasak dari saya.

Saya mungkin bukan majikan yang baik. Tidak sebaik mendiang Ibu yang baik dan tidak galak. Saya langsung menegur dan bersikap tegas kalau ada yang bikin kacau. Tapi toh pembantu saya tetap bilang pada orang-orang bahwa saya itu sebetulnya baik. Kalau saya tegas itu cuma soal kebiasaan karena dulu jadi boss di kantor. Begitu ia bilang pada mereka.

Hidup saya agak tenang sejak pembantu bolot saya menjadi sedikit pintar. Hahaha.


gambar dari sini

16 November 2010

Dear cupcakes,
as i wrote this to you,
and share this to everyone,
you want to know what's on my mind?

one thing,
the fact that : i miss you quite terribly,
and it will still be like that,
till someday, you and i, we, have the chance to do that,

and i will turn out missing you so badly and terribly,
the way that i can not resist,
in every single day,
and every single night.

i love you.

6 November 2010

So Empty



Saya tak mengira. Ternyata tanpa Ibu rasanya terlalu sakit. Lebih sakit dari patah hati yang terparah sekalipun. Lebih sakit dari rasa terhina. Lebih-lebih sakit dari segala pahit.

Seolah-olah ada lubang besar dalam hati dan tak akan terisi lagi. Seperti tak ada tempat berpegang, tercerabut dari akar. Melayang tak tentu arah.

Tiba-tiba saja muncul sesal yang besar bersama jutaan hal yang ternyata belum sempat ditanyakan.

Di rumah sakit mana aku lahir, Bu? Betulkah hari Selasa? Bagaimana cara membuat sup kacang merah? Kenapa Ibu jatuh cinta pada Ayah? Puasa sebelum Idhul Adha itu boleh tiga hari saja kan? Sholawat yang Ibu ajarkan waktu aku kecil itu buat mendoakan apa?

Ah, Ibu... begitu banyak yang belum sempat ditanyakan.

Sore ini kangen yang membuncah membawa saya ke makam Ibu. Makam yang tanahnya masih merah dan basah oleh hujan. Yang nisannya masih berupa kayu seadanya dan taburan bunganya belum mengering.

Benarkah Ibu yang terbaring di dalam sana? Ibu, yang setiap sore duduk di beranda bersama Ayah dan kucing-kucing?

Lalu kekosongan itu datang seperti kabut yang membuat sesak. Saya sudah tak punya Ibu. Perempuan piatu yang terisak sendiri dalam gerimis di depan makam itu.

Kosong. Kosong. Tanpa perempuan yang pernah menghadirkan saya ke dunia ....