3 Agustus 2011

forgive and forget





saya mau bertanya, apa kalian pernah dicemburuhi oleh pacar teman kalian? pacar teman kalian yang ga kalian kenal tiba2 men-add kalian as friend di fesbuk?atau pernah sempat marahan sama pacar PLUS teman kalian gara2 pacar teman ga sreg sama kalian?atau jangan2 kalian salah satu yang menjadi 'pacar' seperti diatas?

Waktu saya kuliah, teman cowo saya banyak, maklum saya kuliah di fakultas teknik yang notabene mayoritas cowo. Salah seorang teman saya, yang bisa dibilang sahabat saya juga mempunyai seorang pacar jikala itu. Saya kenal dengan cewe itu, bahkan beberapa kali kami semua jalan bareng, karokean bareng dan akhirnya sampailah kami berteman di salah satu jejaring sosial. Jikala itu, saya lagi sering2nya online, dan akhirnya saya pun mulai merasa terganggu dengan update-an status2 si 'A'. Tapi, saya hanya diam.
Lalu,suatu hari saya berhasil menyinggungnya dengan memberi komen ke salah satu status pacarnya yang ga laen adalah teman saya. Teman saya mengatakan, dia ga suka dengan beberapa status lebay dan terlalu update. Spontan tangan saya mengetik "pacarmu juga lebay kok" jrengjreng!!!!!!!! itulah awal mulanya.

Kejadian diatas mungkin hanya salah 1 dari beberapa kejadian yang saya alami dengan pacar teman2 saya. Mungkin salah saya juga yang begitu cablak ngomong seperti itu, atau mungkin salah saya juga yang begitu akrab dengan pacar-pacar mereka yang notabene adalaha SAHABAT saya.
Tapi, saya bersyukur seiring dengan waktu akhirnya kami semua sudah baekan. Ada beberapa dari mereka yang mengakui kechildish-an mereka saat itu, dan ada juga yang mau ga mau saya harus akui kalo mungkin saya lah yang salah.
Ahh..tapi buat saya itu semua masa lalu, saya bersyukur di bulan Ramadhan kali ini saya tidak lagi merasakan ganjalan yang sama seperti tahun lalu. Karena menjalani ramadhan tanpa berdamai dengan sesama itu sungguh menyiksa,jenderal!!!

PS : buat para penghuni oldman, dan blogger lainnya yang melaksanakan ibadah puasa happy fasting :) , untuk semuanya mohon maaf kalo kebvo ada salah yak :)
gambar diambil dari sini

1 Juni 2011

look back



Beberapa hari yang lalu, umur saya bertambah banyak,dan saya belum menyadarinya sampai seorang teman me-mention saya di twitter. Ucapannya singkat,tapi langsung membuat saya semakin sadar that i'm getting old.
Jujur,selama ini jika hari itu datang,saya sangat bersemangat,bahkan senang. Tapi, untuk sekarang saya malah merasa khawatir. Saya masih memikirkan pencapaian tertinggi saya di usia yang hampir 1/4 abad ini. Ibu saya, diusia itu sedang membesarkan saya, salah satu teman saya,bahkan sudah memiliki karir yang gemilang. Aahh..benar-benar membuat galau.
Pada hari itu, tidak ada yang spesial kecuali ibu datang dari Makassar dengan seabrek ole-ole dan berita buruk ketika saya sampai rumah dengan mendapatkan kucing kesayangan saya jatuh dari teras atas untuk kedua kalinya.
Dan sorenya, ketika saya sedang menikmati sore hari di teras, sontak mata saya tertuju ke nenek depan rumah saya. Usianya sekitar 80-an lebih, hanya bisa duduk sambil kipas-kipas,tiba-tiba saya berfikir..apakah saya akan seperti itu dikemudian hari??.....
Malamnya saya hanya bisa berdoa, berterima kasih kepada Tuhan yang masih memberikan saya kehidupan sampai diumur ini :)

PS : doa dari teman-teman kali ini kebanyakan "cepat dapat jodoh" amiiinn :)
ngomong2 umur saya bukan 25 lho, tapi 20 tahun..aheemm.. :lol:

gambar dari sini

25 Mei 2011

Confidentially Public

“No matter how careful you are, there’s going to be the sense you missed something, the collapsed feeling under your skin that you didn’t experience it all. There’s that fallen heart feeling that you rushed right through the moments where you should’ve been paying attention. Well, get used to that feeling. That’s how your whole life will feel some day. This is all practice.” - Chuck Palahniuk.
---
Hidup itu relatif, tidak ada yang secara konstan benar atau konstan salah,
bahkan tidak ada yang secara konstan berjalan pasti, semuanya relatif, dan serba tidak pasti.
Bahkan waktu-pun, secara teoritis dibuktikan oleh Einstein berjalan relatif,
gerak gravitasinya memang konstan, kecepatan cahanya memang konstan,
tapi manusia, selalu menjadikan semuanya lebih rumit, lebih kompleks, lebih susah dimengerti.

Biasanya saya akan mempermudah semuanya, mempersingkat,
menghindari birokrasi dan pencampur-adukan kepentingan diluar konteks yang berlebihan.
Singkatnya, menyederhanakan, sampai kepada titik yang paling sederhana.
Cara itu, berguna untuk pekerjaan, kurang baik untuk relationship.
Tidak pernah berhasil.

Saya yang berpikir sederhana, segampang logika kerbau makan rumput,
dan rata-rata perempuan yang berpikir secara analitis konklutif historikal kognitif  ....
singkatnya, rumit.
Itu mungkin sebabnya saya selalu susah mengerti jalan pikiran kalian para perempuan.
Hal kecil jadi besar, semoga hal besar masih jadi hal besar,
mudah-mudahan jangan sampai hal besar jadi hal yang luar biasa besar sampai tak kasat mata lagi malah.

Point penting yang ingin saya sampaikan disini adalah,
apa yang selalu ingin saya jabarkan kepada kamu, merah muda,
bisa jadi saya rangkai dalam berbagai jenis tipe kalimat yang disusun dalam puluhan post,
dan puluhan ribu text messages, dan ratusan jam komunikasi verbal,
tapi itu semua masih belum bisa melatih saya dalam menjadi lancar bicara,
menjadi sedikit lebih manis, dan mengurangi sound efek batak yang berlebih ketika hendak mengatakan
: aku sayang kamu
*garuk-garuk kepala.
Kok bisa ya?

Jadi beginilah caranya,
when love drives you mad, 
madly mad, 
you know,  i mean, madly inlove, to a woman, 
who is the closest thing to perfection for you,
merah muda, 
look at my eyes,
closer baby, closer..
: i love you, so freaking much. *nyengir.

19 Mei 2011

Porpoise

"There are moments when troubles enter our lives and we can do nothing to avoid them.
But they are there for a reason. Only when we have overcome them will we understand why they were there." -  Paulo Coelho (The Fifth Mountain).

---
saya mengerti, bahwa apa yang kita punya ini berbeda,
saya memahami itu.
Kamu dan saya yang menghindari ikrar apapun,
saling memahami bahwa masing-masing dari kita saling membutuhkan.
kamu yang peka, dan saya yang keras hati.
siapa sangka bertemu disini.

: Why you want to marry me?

satu baris pertanyaan yang kamu ajukan kepada saya semalam,
sukses membuat saya tertegun panjang, memikirkan kenapa,
saya berusaha setengah mati untuk mengatakan apa yang saya susun di kepala,
tapi gagal.
saya jadi demikian gugup, dan kamu jadi jengah.
saya lebih gugup dan lebih gugup, setelah saya semakin keras berusaha,
dan setahu saya, kamu bosan menunggu jawaban yang terbata-bata tak jelas kemana arahnya.

saya, ingin menikahi kamu, merah muda,
bukan atas dasar obsesi saya mengingini gadis muda berparas cantik dan luar biasa berbakat,
bukan untuk memuaskan asumsi publik atas akhir cerita ini,
bukan juga untuk membuktikan kepada diri saya sendiri bahwa siklus 4 tahunan saya itu bukanlah kutukan berkala,
bukan.

ini jawabannya,
yang semestinya saya ucapkan semalam secara lebih lengkap.
: karena saya, tidak bisa membayangkan sehari tanpa kamu,
saya ingin kamu ada, di hidup saya, sampai saya tua, sampai kita tua bersama,
somehow, you make me feel better about myself,
somehow you make me feel alive,
and i cant barely imagine how my life will goes without you,
how empty and bored, and dull, and plain, it would be,
you paint my sky, with the colours of rainbow,
i love you,
you make my heart turns to be colored by magnificent red instead of solid black..
and that is why i want to devote my life to you, to us,
you are, exactly what i need,
and i hope, i am, exactly what you want.


Merah muda,
i love you,
i do baby, i do..

---
Note : 
based on the survey, men brought home what he needs, and women brought home, what she wants :P

18 Mei 2011

Incendium

“Whatever you can do or dream you can, begin it. Boldness has genius, power and magic in it.”-Johann Wolfgang von Goethe.
---
Saya bertumbuh, dituntut untuk menjadi orang yang tangguh, secara mental.
Tidak mengeluh, apapun yang terjadi, tidak menangis.
Dimatikan ke-sensitifitas-nya, ditempa untuk jadi batu.
Mempercayai, bahwa, desire is the fuel of life.

Dengan awalan yang demikianlah saya mulai menjalani dunia kerja sampai sekarang,
dengan level keluhan yang saya tekan seminim mungkin,
seperti saya yang telah memukul rata semuanya menjadi ringkas dalam kata: lumayan.

Tidak lelah, tidak jengah, tidak pernah dididik untuk jadi laki-laki lembek tukang kalah.
Sedemikian parahnya, sampai saya benar-benar lupa caranya mengeluh.
Lupa rasanya jadi apa yang dikatakan anggota saya, sebagai 'manusia normal'
Saya menuntut diri saya sendiri, menetapkan standar saya sendiri,
dan mengeksploitasi saya sendiri, secara maksimal, untuk mencapainya.
Mimpi yang saya bangun, saya jadikan pembungkam yang mujarab.

Slogan murahan yang tertempel di kaca belakang angkutan umum,
yang dulu sekali, sering saya lihat,
dan berkali-kali saya jadikan lelucon setelah saya dewasa,
: demi kau dan si buah hati,
rupanya meresap kuat ke dalam saya, secara tidak sadar.

Karena ketika pagi tadi saya bangun,
beranjak dan bersiap berangkat,
saya bertanya kepada diri sendiri,
untuk apa semua ini?
Bangun otomatis pukul 4.45 dinihari,
mandi otomatis setelah 100 push up dan lompat-lompat pendek dengan hitungan setara,
menyiapkan kemeja, menggulung lengan, menyalakan rokok, lalu kemudian menstarter jeep,
berangkat, menuju ke lokasi kerja.
untuk apa?

yang lalu, spontan, dijawab:
untuk menjamin,
bahwa kelak,
apa yang sedang saya bangun,
akan cukup untuk mencukupi anak dan istri saya,
tempat dimana nyawa saya berteduh,
manusia-manusia yang kelak jadi rumah saya,
beberapa jiwa yang jadi pemompa nyawa saya untuk bertahan,
yang dalam rencana saya, adalah kamu,
merah muda,
dan anak kita.