3 Juli 2010

Keinginan Terpendam


Foto dari sini

Saya selalu ingat kejadian yang ini.

Ketika saya bekerja di sebuah kantor yang staf IT-nya sangat-sangat menyebalkan. Mentang-mentang si staf IT itu anak boss, karena sesuatu hal (yang tidak masuk akal) tiba-tiba ia menerapkan aturan dalam hal internet. Hanya satu komputer yang dipasangi internet. Itupun dipasangi password. Orang yang ingin menggunakan internet harus seizin dia. Orang yang sungguh sewenang-wenang dan minta digorok sepertinya!

Tapi saya tenang-tenang saja. Karena dia membagi waktunya dengan bekerja di kantornya sendiri, maka ia sering tidak berada di kantor saya. Maka dengan santainya saya mencoba membongkar password dia. Semua teman tahu tapi diam saja, karena mereka juga benci si anak boss gila itu. Ternyata saya memang bisa membongkar password itu. Benar-benar mengejutkan buat seorang yang tidak pernah mendalami komputer (apalagi IT), yang sebenarnya cuma bisa sekedar mengetik dan menulis blog. Saya tertawa puas sekali ketika itu.

Si anak boss sinting menemukan jejak passwordnya dibongkar. Dia kasak-kusuk bertanya siapa pelakunya. Semuanya membisu. Lalu ia pasang lagi password baru. Saya bongkar lagi. Ia pasang lagi, kali ini dengan sistem yang baru. Saya bongkar lagi. ia pasang lagi dengan sistem lainnya. Saya bongkar lagi. Demikian terus menerus sampai semua ilmunya habis terpakai dan dia bosan sendiri, akhirnya komputer itu tidak lagi dipasangi password! Hahahaha....

Sejak itu saya menyadari sesuatu. Kesukaan saya pada komputer tidak hanya sekedar karena alat ini bisa dipakai menulis dan menyimpan tulisan. Tidak hanya bisa dipakai untuk berselancar di dunia maya, memutar film dan lagu-lagu, atau bercakap-cakap jarak jauh dengan orang-orang. Saya menyukai komputer karena saya penasaran dengan cara pengoperasiannya. Selalu timbul pertanyaan setiap kali saya melihat program files. Kenapa bisa begini? Kenapa bisa begitu? Dan tangan saya gatal untuk mengutak-atik.

Belakangan ketertarikan saya berkembang ke internet. Saya ingin mempelajari cara membuat website, mendesainnya, membuat widget-widget keren dan bermanfaat.

Duh! Saya kepingin banget kursus web desainer!

19 Juni 2010

shithappens



You know,
being someone that always get noticed from other... I’m getting tired of all these.
I’m not that kind of person who will tell everyone about what I’m doing, okay?
What I AM doing is my business.
so, just leave.



enough said.

17 Juni 2010

Menghentikan Cinta

Saya bosan dipermainkan cinta.
Bosan dipermainkan perempuan.
cukuplah itu.

mungkin memang ceritanya cuma akan bertahan sebatas itu.
sebatas cerita yang kelak suatu hari akan saya baca kembali dan saya buang jauh-jauh.

saya tanya.
saya tidak mau lagi percaya cinta, tapi ketika saya ingat kamu, dan apa yang kamu katakan, lalu hati saya bisa sesusah ini, itu apa namanya san? 

...

16 Juni 2010

Kawan gaib *ah saya memang tidak kreatif memberi judul*


Tadi malem, suami saya cerita soal kawan gaibnya yang diwariskan dari bapak mertua saya padanya. Kawan gaib inilah yang melindungi dia kemanapun pergi. Percaya dengan hal kayak gini? well,saya percaya bahwa ada kehidupan lain yang tidak terlihat di sekitar kita, tapi kawan gaib sekaligus pelindung atau istilah bekennya guardian angel eh bukan angel deng kayaknya..mmm..apa ya..jin gitu? percaya gak percaya, tapi jadi cenderung percaya setelah serentetan keberuntungan yang kata si suami sih ada karena perlindungan kawan gaibnya. 


Ada beberapa contoh. kira-kira 6 bulan lalu, di Jember terjadi badai,yang bahkan bikin sebuah menara pemancar sebuah radio roboh blasss dan menimpa ruko ruko di sekitarnya. Si angin badai ini pun tidak melewatkan lingkungan saya tinggal.Akibatnya, beberapa pohon besar tumbang, tiang telkom dan kabel-kabelnya roboh sehingga menghalangi jalan, dua tiang listrik patah *ya! patah sodara-sodara!*, puluhan rumah harus ganti genteng karena banyak dari genteng mereka dibawa terbang dan jatuh kena angin.Bahkan rumah mewah di sebelah rumah saya, tengah atapnya menganga besar karena atapnya ambrol dan canopi dia terbang dibawa angin. Dasyat bener kan? 

Bijimana dengan rumah saya ? tak  hilang satu genteng pun padahal rumah saya ini lumayan tua, dari taun 60an lah. Atap utuh, semua utuh,cuma pohon pisang dan pohon pepaya belakang rumah aja yang tumbang. Rada-rada gakmasukakal juga sih, soalnya rumah saya dipinggir jalan yang dilewatin banget sama angin tapi gak apa-apa sama sekali. Kata suami, saat badai mendekati rumah kami,kawan gaibnya itu berdiri di halaman depan dan menghalau angin supaya tidak mengenai rumah kami, yaa paling banter cuma nyerempet laah, tuh hasilnya, pohon pepaya dan pisang jadi korban hehehehe. 


Oh ada contoh lain lagi.Sejak awal saya tinggal di lingkungan sini, saya sudah dikasih tau sama nci-nci toko sebelah rumah agar hati-hati dan lebih  baik pasang teralis karena beberapa tempat usaha di lingkungan sini pernah kerampokan, dengan oknum pelaku yaa orang-orang sini juga tapi anak-anak berandalnya.Si nci aja kerampokan lima kali padahal rumah dia berpagar tinggi dan berpintu besi, semua jendela pake teralis dan segala jenis alat pengaman lainnya. Bagaimana dengan rumah kami? tak bergorden sehingga semua komputer terlihat jelas dari luar, teralis pun tak ada, kunci seadanya, tapi sudah setaun kami tinggal disini, alhamdulillah aman. Mungkin benar ini karena kawan gaib suami saya, tapi satu yang saya percaya benar,bahwa tuhan bersama kami selalu.

12 Juni 2010

Wanted: Honest Maid without Handphone


Nasib saya belakangan ini bagaikan anak tiri. Di rumah saya harus kerja, kerja dan kerja. Gara-gara pembantu saya hamil dan memutuskan resign (ahahaha gaya!), maka semua tugas-tugasnya jatuh ke tangan saya.

Hmm... kalau sama gajinya sih mending. Ini sih kerja sosial namanya hahaha...

Dan saya baru menyadari, ternyata mencari pembantu di zaman sekarang ini susah. Bukannya tidak ada yang berminat sih, tapi yang benar-benar mau bekerja, jujur, tulus dan sungguh-sungguh mengabdi (kayak di zaman kerajaan gitu) sangat-sangat langka. Padahal nih, di kampung saya banyak ibu-ibu atau perempuan-perempuan muda yang hidupnya kekurangan... dan bukannya tidak ada yang berminat dengan lowongan di rumah saya. Tapi seperti saya bilang tadi, yang mau kerja sungguh-sungguh, jujur dan tulus itu ternyata belum ada sebijipun!

Proses rekruitmennya (gaya dong) sudah dimulai sejak minggu lalu. Ibu saya (dan saya setuju) menerapkan syarat pokok: jangan abege yang punya ponsel. Alasannya saya kira cukup masuk akal dan berdasarkan riset mendalam. Begini, beberapa saudara saya punya pembantu yang rata-rata usianya dibawah 23 tahun. Apa yang terjadi? Jam produktif mereka habis untuk bertelepon dan berSMS-ria.

Nyebelin nggak sih melihat seorang pembantu asyik duduk di sofa sambil mengetik SMS sementara majikannya yang baru saja mengambil air wudhu hendak sholat zuhur sibuk mencari sandal dan handuk? Itu terjadi di depan mata saya, waktu bude saya berkunjung sambil membawa pembantunya yang abege itu. Kepingin banget deh rasanya ngelempar si pembantu pakai sandal yang saya ambilkan untuk bude saya itu!

Dan pasti menyebalkan juga waktu kita sedang khusyuk mengaji, di depan kamar kita ada suara ramai mengobrol dari speakerphone ponsel yang diaktifkan. Itu terjadi waktu saya menginap di rumah sepupu saya, yang pembantunya kebetulan juga abege genit dan punya ponsel. Huh!

Bulan kemarin, sepupu saya yang lain memulangkan pembantunya ke kampung gara-gara ketahuan suka mencatut uang belanja yang setelah diselidiki ternyata untuk membeli pulsa. Seminggu setelah si pembantu dipulangkan, sepupu saya kaget waktu akan membayar tagihan telepon rumah. Jumlahnya membengkak sampai Rp 3 juta, dengan perincian sambungan ke nomor-nomor ponsel tak dikenal!

Jadinya ibu saya trauma. Itu sebabnya proses seleksi sangat ketat. Hahahaha. Akhirnya ya belum dapat juga pembantunya. Sigh!

Selama saya masih merangkap 'pembokat' sementara, setiap malam ada ritual khusus sebelum tidur. Mengolesi tangan dan kaki saya dengan vaseline banyak-banyak supaya nggak kasar dan pecah-pecah. Hiks.... saya nggak rela kalau hal itu sampai terjadi. Kasihan kan fans saya kalau pas salaman sama saya, ternyata tangan saya kasar....

Rencananya pencarian 'pembantu jujur' akan diperluas sampai ke luar kota, bahkan ke luar provinsi. Kemarin ibu saya baru saja telepon saudara kami di Temanggung, Jawa Tengah, minta dicarikan pembantu.

"Jangan yang abege dan punya ponsel ya, Mbakyu...," kata Ibu.

Ya sudah. Saya mau ngepel ya. Ciao!