21 Januari 2010

Rasional


Bicara saya, bicara temperamen.
saya batak. keras, pemarah, pencemburu.
logat sedikit kental. makannya banyak. nyetir mobil kayak kesurupan.
tidak sabaran, selalu mau cepat, but afterall i am a good kisser.. hahaha... iklan.

saya memang pencemburu.
tanya saja korbannya.
sandra.
:D
berapa kali sudah kami bertengkar pendek pendek (kurang dari 2 jam) gara-gara cemburu gak jelas.
saya, bisa jadi sangat logis kalau tentang arsitektur, perhitungan orang accounting, sampai dengan pertimbangan atas karyawan.
tapi sebaliknya, saya bisa jadi orang yang paling bodo, yang paling gak rasional, paling gak logis, kalau sudah bicara analogi sandra dan laki-laki lain.
posesif ya namanya?

sari tahu, popi tahu,
apalagi enno.

satu itu mau saya rubah.
karena saya tahu, itu membuat kami tidak sehat, membuat sandra tidak nyaman, dan membuat saya frustasi sendirian.

pertanyaannya?

bagaimana caranya???

19 Januari 2010

Aku pernah nyolong ubi


Baiklah.
Saya mengaku.
Saya pernah nyolong ubi dikebun Ibu Guru saya sendiri.
Sungguh perbuatan yang tak terpuji & pantas dihujat.
Ibu Gurunya ngajar pelajaran agama & kebetulan guru tari saya juga.

Ceritanya, setiap semester ada pelajaran masak-masak. Salah satu kawan saya mengajukan usul membuat sup ubi. Tapi, dianya ga punya kebun ubi. Temen yang lain ngajak cari ubi ditempat dia aja. Akhirnya, kesepakatan dibuat bahwa sore ini, kita kumpul dirumahnya & bersiap masuk hutan. FYI, saya besar di pedalaman Maluku Utara yang kebetulan masih punya hutan untuk dibikin kebun oleh kami, para pendatang. Tapi, kami ga gila-gilaan nebang hutan kok, cuma menggunakan tanah disela-sela pohon untuk bertanam ubi & kacang, kadang semangka.

Pergilah kami sore itu, seperti laskar pelangi yang akan memasuki hutan. Cewek semua & kami kompak menggunakan celana pendek. Si temen tadi langsung mengajak kami ke kebun yang dia maksud. Dengan semangat, kami mencabuti beberapa batang ubi yang kami anggap cukup umur untuk dicabut. Ubi-nya kami masukin ke dalam karung yang udah kami siapkan dari rumah.

Tiba-tiba si temen yang ngaku punya kebun itu bilang gini, "Eh, kita pulang cepat sudah e. Nanti Ibu Ida pu suami datang. Kalo kita dapat tangkap, kita tara bisa bikin sup ubi lagi kong." (Kita pulang cepet yok. Ntar suami Bu Ida datang. Kalo kita ketangkap, kita ga jadi bikin sup ubi)

Semua anak noleh. Semua merasa TERTIPU. Whattt ??!!

Temenku yang lain ngomong, "Ceee...ngana tipu kita semua ini? Kurang ajar sekali ngana e." (Kamu nipu kita semua yak? Kurang aja sekali kamu yaa)

Entah siapa yang mulai, kaki-kaki kami memutuskan mulai ambil langkah seribu. Terhuyung-huyung kami membawa karung yang berisi ubi hasil curian sambil berdoa dalam hati biar ga ketangkap.

Esok harinya, saat sup ubi dihidangkan diatas meja & guru-guru mulai berdatangan untuk nyicipin, kami terdiam. Apalagi saat Bu Ida ngomong bahwa sup kami enak. Mata-mata kami saling berpandangan, senyum-senyum dikulum dengan kepala tertunduk. Ibu Guruku tercinta ga tahu kalo ubi dikebun Beliau yang kami gunakan.

*permisiiii...saya mau ngakak dulu*
HWAHAHAHAHA
:P

18 Januari 2010

Ente Jual, Ane Beli

Awalnya dia minta tolong ke saya sebagai teman, untuk mengeditkan draft novelnya. Dari awal saya memang tidak berniat minta bayaran. Saya ikhlas kok, karena dulu dia cukup akrab dengan saya.
Saya mengedit tulisannya dengan ngebut. Saya sampai memakai akhir pekan panjang selama tiga hari dengan tidak pergi kemana-mana, padahal waktu itu ada ajakan naik gunung. Tiga hari tiga malam itu saya bertapa di kamar kost, bekerja seteliti mungkin dan berusaha mengejar deadline karena tenggat naik cetak novelnya.

Di sisi lain, dia juga minta salah satu temen blogger untuk membikin ilustrasinya. Selanjutnya, dia minta beberapa orang terkenal yg kebetulan juga blogger untuk jadi first reader.

Belakangan setelah novel itu akan terbit, saya mendengar dia mengedit lagi hasil editing saya itu. Saya jadi heran dan nggak mengerti maunya dia apa sih? Maaf nih, padahal tulisannya dia itu nggak mulus. Untuk soal menulis imbuhan saja dia payah. Waktu editing saya sebagian habis untuk hal-hal remeh seperti itu, yang seharusnya sebagai seorang yang sudah menamatkan pendidikan dari SD sampai SMA, dia sudah tak perlu diajari.

Saya jadi merasa sia-sia kerja tiga hari tiga malam.

Belakangan ternyata hasil ilustrasi si teman blogger yang lain juga tidak dipakainya. Dia memakai ilustrasi orang lain. Alasannya ilustrasi awal itu tidak cocok. Padahal dia sendiri lho yang bilang suka pada hasil karya si teman, dan ingin memakainya dalam bukunya.

Di blognya, dia menulis postingan khusus ucapan terima kasih buat orang-orang yang berpartisipasi untuk novelnya. Ternyata dia cuma menyebut sederet orang-orang terkenal yang jadi first readernya. Nama saya dan nama ilustrator yang pertama? Nggak ada. Mentang-mentang dia mengedit ulang hasil editing saya dan tidak jadi memakai ilustrasi pertama itu kali ya.

Setelah novelnya terbit, dia sempat mengirim undangan untuk launching bukunya. Saya tidak bisa datang karena sedang di luar kota. Tapi dia nggak pernah tuh menanyakan alamat saya sebagai itikad akan mengirim komplimen. Yang ada dia malah menyesal-nyesali kenapa saya nggak bisa hadir (mungkin untuk memuji-muji karyanya di depan hadirin).

Saya jadi berpikir: "Lho, jadi maksudnya gue harus beli nih? Kirain mau dikirim satu eksemplar."
Etikanya, editor mendapatkan beberapa eksemplar sebagai komplimen. Lagipula, toh dia tetap memasang kata pengantar dari saya sebagai editor di novel itu.

Saya sih bisa beli sendiri kalau mau. Tapi dimana sopan santunnya? Saya sudah menolong dia. Sedikitnya, meskipun dia edit lagi hasil editing saya, namun demikian tentu ada beberapa kekacauan tulisan dia yang sudah saya poles, yang masih dia pakai. Meskipun ada juga yang dia switch ke tulisan sebelum editing. Nah, sebetulnya itu merisaukan hati saya. Kalau ada lagi kalimat salah ketik, salah eja, salah menulis imbuhan di novel itu, gimana? Sementara mereka tahunya editornya kan saya. Bisa rusak nama baik saya!

Maaf ya, di manapun saya bekerja sebagai editor, saya dikenal paling teliti soal mengoreksi naskah. Jarang kesalahan eja, tulis atau ketik yang luput dari mata saya.

Kok saya kedengaran nggak ikhlas ya nolong dia?
Oh salah. Saya ikhlas kok. Tapi saya berhak jengkel kan, karena saya merasa diperalat, disepelekan. Saya ini kan menganggap dia teman. Tapi sepertinya dia tidak setulus itu pada saya.

Padahal saya ini kurang apa sebagai teman? Selama proses penerbitan novel itu, dia selalu menelepon saya. Dan selalu pada jam-jam istirahat saya, entah itu tengah malam atau jam satu pagi... dan telepon-teleponnya yang berjam-jam itu isinya hanya soal rasa groginya, ketidakyakinannya, keraguannya... terhadap prospek novelnya. Sampai saya capek memberi suntikan semangat! Saking capeknya, belakangan teleponnya tidak pernah lagi saya angkat.

Sebetulnya, saya sudah menduga bahwa dia tidak setulus yang saya kira. Ketika dia bilang dia akan menerbitkan novelnya dengan penerbitan sendiri, saya bercanda dan bilang, "baguslah, kalau kamu punya penerbitan sendiri, saya juga bisa kasih draft novel saya ke kamu untuk diterbitkan."
Tahu nggak, dia diam saja tuh. Dari diamnya itu saya tahu, dia tidak bersedia. Entah karena apa. Mungkin takut novel saya lebih laku dari novelnya? Who knows.

Sekarang sih, dia saya coret dari friend list saya. Maaf, saya nggak ada waktu berteman dengan orang seperti itu. Dan pengalaman ini saya jadikan pelajaran berharga. Saya nggak akan lagi mau dimintai tolong siapapun kalau nggak ada hitam di atas putih, sekalipun cuma proyek thank you.

15 Januari 2010

something important



Ada satu senior gue yang pernah gue suka sekitar bulan Maret 2009 kemarin. Alasan sukanya sih klise banget. Dulu kita pernah satu project ngerjain acara charity di kampus. Dia itu ketua pelaksananya dan gue adalah koordinator acaranya. Dan cinta lokasi pun terjadi.
See, this is sooo cliché.

Kalau kata orang-orang sih wajar kalau gue bisa suka sama dia. Yang enggak wajar adalah kalau ada cewek yang enggak GR sama kelakuannya dia. Secara si senior ini adalah tipikal cowok yang sangat baik hati terhadap perempuan, sangat perhatian terhadap perempuan, sangat sopan terhadap perempuan, sangat bermulut manis terhadap perempuan.
Pokoknya tipikal cowok yang enggak malu-maluin deh kalau dikenalin ke orangtua.
Cuman, ya itu dia, sikap dia itu ditujuin enggak ke gue doang tapi ke semua perempuan yang kenal dan dekat sama dia. Makanya gue suka, atau dengan kata lain, GUE GR SAMA SIKAPNYA DIA!

Huaaaa... dulu itu rasanya bahagiaaa banget kalau udah kerja bareng dia, atau ngobrol ngomong aku-kamu (sumpah ini enggak penting banget! haha), atau di sms dengan nada-nada perhatian. Cuman sayangnya kawan-kawaaaaan, dia sudah pacar. Damn. Dan udah pacaran selama empat tahun. Shithappens banget deh.

Makanya gue akhirnya melupakan perasaan gue dan move on. Lagian agak bahaya juga suka sama cowok kayak gini. Karena gue enggak tahu gimana perasaan sebenarnya ke gue atau ke orang lain disebabkan oleh sikap baiknya yang tanpa pandang bulu ke semua orang. Jadi, gue pun mengindahkan perasaan gue dan menikmati aja hubungan senior-junior yang akrab dengan dia sampai saat ini.
Dimana sekarang dia dan pacar-empat-tahun itu sudah putus dan gue sempet dekat dengan laki-laki lain.

Pernah suatu kali sahabat gue bertanya kepada gue,
“Tam, si kak ***** udah putus kan sama pacarnya? Elo kenapa enggak suka lagi sama dia?”

Ya kali dikira suka sama orang itu gampang?
Haha.
Daripada gue suka, gue udah terlanjur sayang dengan dia. Tetapi rasa sayang yang enggak pake rasa suka. Menurut gue sayang dan suka itu adalah dua hal yang berbeda. Rasa sayang itu (memang) adalah tahap lebih lanjut dari rasa suka. Yang membedakan saat ini adalah, gue enggak ada rasa deg-degan atau rasa ingin memiliki atau rasa kangen sama dia.
Cuman, he is important for me.
Memang belum bisa disebut sebagai sahabat dan dia bukan lagi orang orang yang disuka.


***

Malam ini alasannya mengapa iseng banget gue nulis tentang dia karena siang tadi saat enggak sengaja ketemu di kampus. Seperti biasa dia menepuk pundak gue dengan hangat dan mengatakan hal ini;
“Pokoknya Tam, aku akan selalu dukung kamu buat maju. Aku akan ada di depan kamu dan di belakang kamu. Aku akan selalu ada buat kamu. Jadi kamu enggak perlu takut, ya!”


Udah jadi rahasia umum kalau gue mau maju jadi ketua himpunan di jurusan gue. Dan dukungan dia yang sangat frontal dan bukan basa-basi itu membuat gue jadi makin sayang sama dia. Satu hal yang gue tahu, perasaan gue bukan perasaan sepihak. :)



Ps: gue itu orangnya jarang nangis, tapi gue pernah nangis sekali dan sesungukan gara-gara tau si senior ini kena dbd dan gue ‘nyaris’ enggak bisa jenguk dia. Pikiran gue saat itu adalah gue takut enggak bisa ketemu dia lagi (karena dikabarkan kondisinya sangat drop).
Hahaha... dan gue lumayan dijadiin bahan tertawaan sahabat-sahabat gue gara-gara hal ini.
Sialan.
;p

14 Januari 2010

Kutu


Satu lagi rahasia memalukan yang akan aku ungkap disini. Aku pernah punya kutu rambut huhuhu
Eh, emang ada ga siy, cewek yang ga pernah punya kutu rambut? Kalo ada, keren dah !!

Seingatku, waktu SMA, aku merasa rambutku tiba-tiba gatel banget. Udah aku keramasin bolak-balik tetap aja gatel. Rasanya juga panas. Karena curiga, aku minta Mama-ku 'metani' *bahasa Jawanya nyari kutu*
Akhirnya, rambutku di sisir pake serit *sisir kutu yang giginya kecil-kecil rapat*, nahhh...berjatuhanlah itu kutu-kutu diatas kalender putih yang dibentangkan Mamaku dibawah rambutku *awass kalo ada yang bilang kayak monyet, kusambit pake bakiaknya Enno*

Kutunya gede-gede, mirip kutu beras. Kulit kepalaku enak kali yee...jadi mereka sehat-sehat. Hari-hari mencari kutu dimulai. Tiap kali Mamaku ngubek-ngubek kepalaku, akunya siy enak-enak aja, malah berasa ngantuk gitu hehehe. Malasnya, gatelnya itu bok...kagak nahannn...

Suatu hari, aku ga sengaja membaca tips cara ngilangin kutu. Aku bertekat mau praktekin tips itu. Caranya, sungguh amat kejam. Pake minyak tanah. Rambutku kubasahi pake minyak tanah trus ditutupi handuk hangat, semalam. Bantalku aja aku kasih alas biar ga bau minyak tanah.
Besoknya, dengan modal kalender yang aku balik biar kutu yang jatuh kelihatan dibagian putihnya, mulailah aku menyisir rambutku pake serit.

Weleh-weleh...kutunya modar kabeh *mampus semua* HWAHAHAHA :P
Rambutku juga kelihatan tambah hitam & berkilat. Ga sia-sia aku nahan bau minyak semalaman. Sejak itu, aku bebas dari kutu-kutu.

MERDEKA !!