14 Januari 2010

Misteri Bra yang Hilang

Bra favorit saya warnanya pink, di sudut cup kanan ada gambar seekor anak kucing belang sedang bermain dengan segulung benang. Tumben-tumbennya memang saya punya bra centil begitu, warnanya pink lagi. Halah, kayak abege! Tapi bra itu enak dipakai. Nyaman. Pas. Dan karena modelnya push up bra, menimbulkan sensasi sexy. Hahaha...

Tiba-tiba saja... yah, tiba-tiba saja bra pink itu hilang. Padahal saya sendiri yang mencucinya dan menjemurnya. Jelas-jelas saya ingat bra itu sedang dijemur dan waktu sorenya mau diangkat... lenyap!

Huaaaaa..... Saya panik dan mencari ke sana kemari. Siapa tahu Ninih, tukang cuci ibu yang mengangkatnya. Ternyata di keranjang jemuran kering tidak ada, di lemari saya tidak ada, di lemari Ibu nihil, apalagi di lemari Ayah dan adik lelaki saya dong. Bete. Saya langsung uring-uringan, tidak lupa pakai nangis. Sedih banget, itu kan bra limited edition. Nggak bakal keluar lagi tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Dan mahaaaalll! Huaaaaa........

Di rumah saya memang suka banyak orang keluar masuk, kebanyakan kaum perempuan. Ada tukang urut langganan, ada tetangga yang mau menjual kangkung, ada isterinya tukang kebun, ada anak-anak abege yang suka minta jambu, ada mantan pembantu yang mencari kerja part time...
Pokoknya banyak orang! Jadi siapa pun bisa jadi tersangkanya.

Sampai hari ini nih, berarti sudah 3 hari bra saya itu lenyap. Saya yakin seyakin-yakinnya kalau bra pink itu diambil orang langsung dari jemurannya. Huh! Saya sumpahin pencuri yang memakai bra itu kutilan!

*Udah ah, mau nangis lagi... huhuhu hiks*

12 Januari 2010

"--------"

" Yenk....!! Hey...awass...! "

Ya Tuhan. Saya langsung mundur ke belakang. Dia seketika merapat dan saya pun menggenggam tangannya kuat *Kaget bo' !*.

"Kamu gak liat apa ada mobil, kamu kenapa sih ?"

" Ha ? ", yeah, saya memang ada kebiasaan buruk, bahwa terkadang orang harus mengulang pembicaraannya ke saya, karena perhatian saya yang mudah teralih akhir-akhir ini.

"kamu kenapa ?"

gak tau hehehe..."


********
Siang itu saya nyaris ditabrak mobil. Kami, Saya dan Dia (baca : pacar saya) menyempatkan untuk makan siang bersama di warung kecil yang berada di depan kos-kosan sebelum saya berangkat kuliah. Dia yang keluar dari warung dengan tangan-yang-masih-sibuk-memasukkan- lembaran-rupiah-di dompet-dan-menyelipkannya- di kantong-belakang-celana tiba-tiba kaget mendapati saya sudah tidak disampingnya dan nyelonong gitu aja ke tengah jalan. Pweehh....untung mobilnya pelan. Dan saya nyaris celaka gara-gara melamun.

Akhir-akhir ini saya sering sekali melakukan hobby yang satu itu. Tiba-tiba terdiam, pikiran kosong, tatapan entah ke mana, tau-tau saya sudah ketinggalan, tau-tau kepala saya sudah sakit kena jitakan gara-gara tidak memperhatikan lawan bicara. Hwaa...So embarrassing !. Orang pun jadi saya buat kesal gara-gara harus mereply omongan mereka. Jadi biar tidak merepotkan orang lain, saya malah memilih untuk menikmati kesendirian di kamar, dengan jendela dan pintu tertutup, lalu menonton film-film. Di depan pintu kamar seolah-olah ada tulisan "No offense please" hahaha....Nonton Film aja bisa-bisanya gak konsentrasi *jitak kepala sendiri!*. Terdengar seperti orang depresi ya ? poor me... tapi gak kok. Tenang aja saya masih sehat wal'afiat. Mungkin efek tamu bulanan kali ya. Saya jadi seperti cerita senetron. :))

WOYY...!!
Tuh kan ngelamun lagi...!!

hahaha...abis rumahnya sepi sih... *Pada ke mana sih ni orang-orang...??*



PS : satu lagi rahasia saya terungkap. Hobby melamun ^^"
PSnya PS : saya lagi pengen melihara kucing lagi, sapa tau bisa ngilangin hobby melamun saya ini fufufu....

11 Januari 2010

Salon


Saya ini sebenarnya salon freak. Bisa nongkrong seminggu dua-tiga kali di salon langganan. Apapun bisa jadi alasan. Nggak ada kerjaan-lah, lagi bete-lah, ingin numpang istirahat-lah. Dari keperluan yang penting sampai tidak penting. Dari hanya ingin gunting kuku atau memang sudah waktunya luluran. Makanya, kalau saya sedang jauh dari kota besar yang biasanya memiliki salon-salon yang memadai, saya selalu bawa peralatan spa sendiri. Satu tas kosmetik isinya segala lulur dan masker. Dari masker wajah, tubuh sampai payudara. Dari yang berguna memutihkan sampai melangsingkan.

Orang-orang sering tertipu dengan penampilan saya yang tomboy. Sehari-hari saya memang lebih suka pakai kemeja, tshirt dan celana jins. Saya jarang pakai high heels dan lebih suka flat shoes atau sandal. Mereka pikir saya tidak bakal punya salon langganan. Bahkan ibu saya saja masih sering kaget kalau melihat saya menenteng-nenteng tas kosmetik yang isinya bahan-bahan home spa. Well, jelas mereka mengira saya ini bukan jenis cewek yang suka merawat tubuh.

Saya punya salon langganan khusus lulur ala keraton. Saya tahu dimana salon yang punya stylist keren tapi tidak mahal, yang hasil guntingannya bisa tetap bagus sampai tiga-empat bulan. Saya punya salon khusus terapi telinga dan terapi aroma. Saya tahu dimana harus facial yang lengkap dan tidak bikin wajah bengkak. Saya juga punya salon langganan yang khusus mengeriting bulu mata saya menjadi lebih lentik.

Dan semua salon-salon itu bukan salon mahal yang biasa dikunjungi para artis dan selebritas. Kalau kalian rajin bertanya dan mengulik sana-sini, kalian bisa kok menemukan salon-salon biasa dengan para stylist berbakat.

10 Januari 2010

Halo semuanya :)




Well, gue kontributor baru disini. Salam kenal dan mulai dari postingan ini di publish maka gue resmi sebagai salah satu penulis di blog ini. Hihi.

Berbeda dari semuanya, saat ini status gue masih mahasiswa. Iya, mahasiswa, yang kerjaannya berkutat dengan buku teori-teori serta membuat makalah dan penelitian.
Jurusan yang gue ambil juga sedikitnya bikin alis orang berkerut, yaitu ilmu politik. Iya, ilmu politik, yang isinya tentang teori-teori politik klasik dari jaman Plato, Socrates, Machiavelli, hingga teori-teori politik modern jamannya Karl Marx sampai mempelajari buku-bukunya Herbert Feith (seorang professor yang mempelajari perpolitikan Indonesia).

Mungkin banyak yang berpikir kalau kuliah ilmu politik itu membosankan. Hm, well, enggak segitunya kok. Sangat menyenangkan malah. Tetapi sejauh ini setelah gue pikir-pikir lagi kenapa gue merasa senang belajar teori-teori politik terlebih karena rasa suka gue mempelajari hal tersebut. Katanya, ketika elo menyukai sesuatu maka ketika menjalaninya pun akan menjadi enjoy.

Dulu, gue enggak pernah berpikir untuk masuk ilmu politik sama sekali. Yang ada dalam pikiran gue semenjak SMP adalah gue ingin masuk fakultas hukum dan menjadi seorang lawyer.
Kenapa lawyer?
Mungkin karena gue ingin membuktikan diri gue yang anak perempuan ke ayah yang profesinya memang pengacara.
Tetapi ketika menjelang akhir SMA dan mengikuti ujian-ujian universitas. Gue mengalami banyak kegagalan untuk masuk universitas yang gue inginkan beserta fakultas hukum yang sangat gue impi-impikan. Sehingga sampailah di satu titik tinggal perjuangan terakhir gue untuk sebuah ujian terakhir kala itu untuk universitas negeri.

Pada saat itu gue mulai memikirkan jurusan alternatif yang ingin gue pilih selain fakultas hukum. Dengan kata lain gue mulai berpikiran secara rasional. Selama ini tujuan gue masuk ke fakultas hukum hanyalah sekedar ajang pembuktian diri gue kalau gue mampu menjadi pengacara. Tetapi gue enggak pernah bertanya sama diri gue sendiri kalau......
‘apakah benar fakultas hukum itu apa yang gue mau?
apakah benar dengan membuktikan diri menjadi pengacara membuat diri gue menjadi puas?’.


Maka atas dasar rasa suka lah gue mencari alternatif jurusan (jadi kalo emang gue enggak keterima hukum, alternatif pilihan lainnya itu adalah sesuatu yang memang gue sukain). Saat itu entah kenapa gue tertarik dengan jurusan politik. Ada yang pernah bercerita sama gue, mempelajari politik itu mengasyikan dan memakai daya nalar. Terlebih lagi iklim perpolitikan Indonesia yang memang bikin semua orang muak itu menantang gue untuk mempelajari apa sih politik yang sebenarnya. Bukan sekedar politik yang ada di dalam image orang-orang kalau politik itu kotor dan politik itu sama dengan korupsi.

Dan disini garisan nasib dan takdir bermain dalam hasil ujian universitas gue. Enggak disangka-sangka, gue malah keterima jurusan ilmu politik. Bahkan ibu gue sampai berulang kali meyakinkan gue apakah ilmu politik itu benar-benar yang gue inginkan, bahkan beliau mengijinkan gue untuk mengulang satu tahun lagi.
Tetapi keputusan telah dibulatkan, takdir dan nasib telah memberikan jawabannya. Dan politik memang ternyata tempat yang terbaik untuk gue jalanin.

Setiap kejadian itu memiliki hikmahnya tersendiri. Kegagalan yang gue alamin saat ujian-ujian sebelumnya makin menguatkan gue bukannya melemahkan tekad gue, bahkan gue menemukan satu jurusan yang benar-benar cocok dengan diri gue.
Memang bukan jurusan terbaik di antara semua pilihan, tetapi yang paling cocok lah yang gue butuhkan. :)

8 Januari 2010

Old School Minded



Diantara sekian banyak sedikit pengalaman cinta saya, ada satu yang mmm sebenernya gak indah-indah amat tapi cukup memberikan pelajaran. Terjadi beberapa tahun yang lalu, saat saya kerja di sebuah radio di bandung. Mungkin karena sering ketemu, akhirnya si dia ini naksir sama saya. Dia adalah penyiar tamu di radio tempat saya kerja. Semua orang gak nyangka kami bisa pacaran, kenapa? karena kami beda 21 tahun sodara-sodara. Tuir bener ya bok selera gue hihihih. Semua orang mengira hubungan kami seperti dalam dongeng mm atau lebih tepatnya, hidup saya yang seperti dalam dongeng. Dia adalah seorang pengusaha kaya raya, punya beberapa pom bensin dan usaha lainnya dan siaran cuma hobi. Dan dia sangat senang memberi orang lain. Setelah kami jadian, temen-temen kantor saya yang ngerasain banget imbas baiknya. Jadi sering dikasih ini itu, diajak jalan-jalan sekantor, pokoknya enak laaah. Maka itu mereka mengira hidup saya bergelimang harta. Bisa saja begitu, jika saya mau. Tapi saya gak suka disokong. Mending punya duit pas-pasan tapi nyari sendiri. Nah, yang orang tidak tahu juga adalaaah, pacar saya ini old school banget pola pikirnya. Bagi dia perempuan adalah makhluk yang sangat rapuh jadi mesti dijaga dengan sangat hati-hati, atau dalam kamusnya dia, dilarang ini itu. Dia antar jemput saya setiap hari, ini membuat saya harus selalu menunggu, karena dia gak selalu datang tepat waktu. Pengennya langsung caw aja gitu pake motor, lalu melaju sembalap di jalanan Bandung. Cepet nyampe tempat tujuan, dan saya gak harus bergantung pada orang. Saya gak suka menunggu. Suatu hari saya bilang pengen punya motor, karena mobilisasi saya tinggi dan sangat gak efektif dan efisien kalo pake angkot. Dia bilang jangan, katanya saya nanti bakal item, bakal cape, bakal stres di jalan karena macet, kasian katanya. Dan saya bilang bahwa tugas saya sebagai jurnalis mengharuskan saya bergerak cepat dan efisien, makanya saya butuh motor. Dia tetap tidak setuju. Untuk 'membungkam" saya, dia sediakan mobil plus sopir buat saya. Untuk sementara waktu saya ngalah lagi. Pake mobil di jalanan Bandung itu sangat buang waktu dan saya gak bisa cepet nyampe tujuan peliputan. Saya tetep butuh motor.


Dalam sebuah obrolan, dia tiba-tiba berkata, "kalo kita udah nikah, kamu gak usah kerja yaa. Dirumah aja, ngurus rumah, ngurus anak, ngurus aku. Kamu mau minta apa aja aku kasih, asal jangan kerja". WTF?! buat saya kerja itu bukan cuma soal nyari duit, tapi juga soal aktuliasasi, soal memaksimalkan berkah yang sudah tuhan kasih. Soal menghargai kemampuan diri sendiri dan memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk bereksplorasi, menjadi mandiri. Saat itulah saya tahu, tidak mungkin saya hidup bersama seseorang yang nantinya hanya akan membuat saya bagai mayat hidup.Dari semua sikapnya selama kami pacaran, saya sudah bisa membaca bagaimana gambaran hidup saya jika berumah tangga dengannya. Saya akan jadi orang yang tergantung, lalu perlahan-lahan kehilangan keberdayaan, jadi manja kemudian jadi bego. Dan saya takut menjadi semua itu, karena itu artinya, saya telah kehilangan kesempatan menjalani hidup secara penuh. Untungnya saya tidak bersama beliau lagi dan tentuuu tidak menikah dengannya. Saat kami putus, saya jual cincin pemberiannya buat DP motor hahahahaah!


Kisah cinta saya dengan bapak itu bener-bener memberikan pelajaran. Bahwa apa yang kita KIRA perwujudan dari sikap mencintai belum tentu berakibat baik pada orang yang kita cintai.